Kidung Cinta Nacita

           “Kamu benar-benar laki-laki pembohong Kak Satria. Kamu ingat, kamu telah berjanji untuk tak kan pernah menorehkan luka. Kamu selalu mengatakan bahwa setiap waktunya kamu hanya akan menaburkan tawa untukku.”

            “Cit, aku tahu, aku telah melanggar janjiku. Namun kumohon kamu jangan pernah membenciku. Ini semua demi kebaikan kita. Biarlah perasaan yang belum seharusnya ada ini kita jadikannya tak bersua. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kita. Aku ingin menjagamu cit”.

            “Tidak Kak Satria, kamu dan Karan sama saja. Kamu tau bahagiaku, ketika kamu menjagaku dengan cinta bukan dengan luka”.

            “Maafkan aku cit, aku tahu apa yang kamu inginkan. Namun, tetap saja ini semua salah. “

            Nacita tak bersua kembali, di ujung telepon sana seseorang juga terpekur sama dengan Nacita. Ia hanya bisa mendengarkan suara sesenggukan Nacita, dan tidak tahu lagi akan berbuat apa.

***

            Akhir-akhir ini Nacita terlihat sangat sibuk mengemasi barang-barangnya. Ayu sahabatnya yang sedari tadi memperhatikan jalan, dari jendela kamar Nacita yang terletak dilantai dua kontrakan, hanya bisa terdiam ketika Nacita menyuruhnya duduk manis, sedangkan ia tidak ingin dibantu mengepaki semua barangnya dalam kardus-kardus besar itu.

            “Cit, kalau aku hanya duduk dan memperhatikan jalan, terus ngapain kamu suruh aku kesini bantuin kamu pindahan”. Ujar Ayu dengan tampang memelas dan terlihat sangat bosan.

            “Haha, maaf Ayu sayang. Aku hanya ingin merapikan barang-barangku sendiri, biar mudah mengingatnya ketika nanti membongkarnya kembali. Kau kan tahu betapa pikunnya aku, sehingga harus mencatat setiap benda yang aku masukkan dalam satu kardus pada buku catatan ini. Hihi”.

            “Lantas untuk apa aku disini? Melihat muka mu yang terlihat sangat bego itu ya akhir-akhir ini karena udah berkali-kali nolak lamaran pria baik-baik yang kaya dan ganteng. Hah?” .

Nacita terdiam beberapa saat, namun tiba-tiba saja ide jahilnya kambuh. Ia lalu meletakkan kardus yang telah ia pak dan menyusunnya rapi, lalu duduk disamping Ayu. “Haha, ya enggak lah. Justru kamu disini, karena aku ingin melihat ekspresimu secara langsung ketika kau dilamar kakakku kemaren. “

Ayu yang tiba-tiba salah tingkah hanya bisa terssenyum dan memeluk haru sekaligus girang sahabatnya itu.

“Makasih ya Cit, ini semua berkat kamu Aku bisa bertemu kakakmu. Sayang banget ya Cit, kamu dan kak Satria harus berakhir tiga tahun yang lalu, padahal dulu ku kira kau dan dia akan…”

“Sudahlah Yu, aku benar-benar tak ingin mengingatnya kembali. Aku bahagia sekarang dengan keadaanku”.

“Iya Cit, kamu sekarang sudah jadi wanita sukses, kamu pasti bisa mewujudkan mimpimu mendirikan sekolah alam untuk anak-anak jalanan itu. Tapi apa kamu benar-benar akan pindah ke Lombok Cit?”.

“Iya Yu, tugasku disana untuk mengembangkan pariwisata dan mengenalkan kebudayaan disana. Kamu kan tahu, kerjaku di dinas kebudayaan dan pariwisata. Aku akan merindukanmu Yu”.

Entah kenapa tiba-tiba ia terasa sangat enggan untuk pergi bertugas, biasanya ketika ia ditugaskan untuk observasi ditempat-tempat wisata luar pulau ia sangat bersemangat. Mungkin karena Nacita tahu, kali ini mungkin saja ia akan sangat lama bertugas disana, dan akan sangat merindukan sahabat dan keluarganya.

“Ya Allah, aku selalu yakin bahwa rencanamu selalu lebih indah dari semua rencana yang telah dibuat sedemikian rupa oleh manusia. “ batin Nacita dalam hati.

***

Bait-bait ini seolah syair kerinduan

Deretan abjad ini bukti kebisuan

            Diam, dan hanya termenung ia melihat sajak yang baru ia tulis. Sudah sebulan ia berada di Lombok rasanya sudah terasa sangat lama sekali. Ia merindukan deburan ombak yang menyapu bulu babi ditepian pantai dengan sekali gilas. Sore ini, ia menyusuri pantai dengan buku catatan yang tak lepas dari tangannya. Kerudungnya yang lebar melambai  tergerai oleh angin darat yang berhembus. Ia ingat benar hari ini adalah ulang tahun seseorang yang teramat berarti baginya. Sudah hampir tiga tahun ini ia tak lagi mengucapkan kata “selamat” itu pada laki-laki yang sangat ia rindukan kehadirannya.

            Tiba-tiba saja selembar kertas yang berisi syair tadi terlepas dari gengamannya dan terbang terbawa angin. Hal ini mengingatkannya pada kejadian tiga tahun lalu tepat saat ulang tahun orang yang teramat berarti bagi Nacita. Yah, kata “kertas” telah berhasil megungkit kembali memorinya.

            “Nah, Kak, hari ini aku ingin kakak menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang telah kutulis pada kertas ini. Deal? Ini dia kertas pertama, jeng..jeng”.

            Apakah kau baik-baik saja

            “Haha, Yeah, aku baik-baik saja. Next”

            Bagaimana perasaanmu hari ini

            “emm, Happy, very-very happy”

            Bisakah kau menyanyikan sebuah lagu untukku?

            “No, aku tidak bisa bernyanyi Nacita”.

            Please.. Nyanyikan aku sebuah lagu Happy Birthday

            “emm, oke. Happy birthday to you. Happy birthday to you”.

            “emm..stop, yang ulang tahun bukan aku kak, tapi kamu, pakai namamu dong”.

“ahaha..aku sangat malu. Aku benar-benar tidak bisa bernyanyi Cit.”

“Ayolah, emmm”, dengan wajah yang sangat memelas Nacita memohon.

“Baiklah, happy birthday Satria, happy birthday Satria, Happy birthday, happy birthday, happy birthday Satria. Sudah kan? Puaskan sekarang”.

“Ahahaha, puas. Puas”, Nacita cekikan sambil memegangi perutnya yang sakit karena menahan tawa. Sedang Satria hanya tersenyum memperhatikan gadis yang sangat banyak ide jahilnya ini. Ia nampak sangat bahagia setiap kali bersama Nacita.

Berkat lamunan itu pertahanan emosi Nacita hampir tak terbendung lagi. Biasanya tiap kali mengingat kenangan manis bersama Satria ia selalu histeris, namun kali ini ia ingin benar-benar melupakan segalanya. Nacita menengadahkan wajahnya ke atas, melihat langit yang mulai berubah warna menjadi jingga. Ia tiba-tiba teringat kakaknya yang sangat menyukai suasana senja. Diraihnya hpnya di saku roknya, ingin ia menelpon kakaknya namun ternyata ada satu pesan dari nomor yang tak ia kenal.

Assalamualaikum, Nacita sayang ini mbak Fira. Gimana kabar kamu sayang? Sudah lama sekali rasanya mbak tidak mendengar kabarmu? Sehatkah anti? Segera hubungi mbak jika ndak sibuk ya.

Nacita terkejut, ternyata yang menghubungi adalah Murabbinya. Ia pun langsung menelponnya.

“Assalamualaikum. Mbak.”

“Waalaikumsalam adekku Nacita. Akhirnya kamu membalas pesan mbak. Kamu tahu nggak, nomermu jarang aktif, mbak susah sekali menghubungimu”.

“Haha, afwan mbak. Saya lagi tugas di Lombok, mungkin waktu  tidak ada sinyal. Ohya gimana kabarnya mbak? Saya dengar-dengar sedang ada si “baby” ya mbak? Haha”

“Alhamdulillah nduk, oh iya ada hal penting yang ingin mbak sampaikan.”

“Tentang apa sih mbak, kelihatannya serius sekali. Wah, Cita jadi penasaran, mbak Cita kangen mbak, hihi”

“Yah, yah mbak juga kangen Cita, kangen bawelnya, jahilnya. Ini loh, ada lagi proposal nikah buat kamu nduk, kali ini dari seseorang yang kamu kenal. “

“Ah, itu lagi mbak. Mbak, Cita masih ingin sendiri”.

“Apa lagi yang kamu tunggu nduk, kamu kan wanita solehah tentu kamu tahu dong apa hukumnya menikah. Sempurnakan ibadahmu nduk. Kali ini mbak mohon baca dulu ya?”.

“Iya mbak Cita tahu. Iya Cita janji akan membacanya. Memang dari siapa mbak kok katanya kenal Cita”.

“Karan, nduk”.

Seketika perasaan Nacita menjadi tak karuan. Karan? Kenapa harus Karan? Mau apa orang itu muncul lagi dalam hidupnya?.

“Ka-karan mbak?”.

“Iya nduk, selama ini mbak tahu benar kisah kalian. Mbak tahu dulu perasaanmu padanya, begitu juga Karan. Sebenarnya dulu ia bersikap acuh padamu, karena ingin menjagamu nduk. Mbak tahu ia benar-benar mencintaimu. Namun, ia ingin kamu tetap suci, cintamu sama Allah tak terbagi dengannya sebelum waktunya nduk”.

Nacita sudah tidak sangggup lagi mendengarkan Mbak Fira bercerita panjang lebar tentang Karan yang selama ini menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya pada Cita. Ketika kini ia telah siap, ia ingin menjadikan wanita yang ia cintai sejak dulu menjadi pendamping hidupnya. Namun, tidak bagi Nacita, perasaannya sudah hilang tak berbekas.  Namun, demi janjinya pada mbak Fira, ia masih mau untuk berpikir kembali.

***

            Hari-hari berlalu tak terasa, kini sudah hampir seminggu sejak tugasnya di Lombok selama tiga bulan telah berlalu dan kini ia sedang berada di Malang, mengurus seseuatu. Hari ini ia janji akan bertemu dengan mbak Fira dan berbuka puasa bersama. Karena kebetulan ini adalah hari kamis,hari untuk berpuasa sunnah.

            “Cita, sepertinya mbak agak terlambat. Nanti mbak hubungi ya”.

            Suara mbak Fira yang terburu-buru menutup telepon. Nacita yang bingung harus kemana akhirnya memutuskan untuk pergi ke toko buku. Tanpa terasa ia mengenang kembali kejadian bersama Satria. Ia begitu hafal Satria sangat menyukai toko buku, ia bisa lupa waktu dan lupa akan kehadiran Cita jika telah berada di toko buku. Saat-saat menyenangkan bagi Nacita, bisa memperhatikan ia dari jauh ketika ia sedang sibuk membaca sinopsis buku.

            Nacita menyusuri rak demi rak buku yang suka dilihat oleh Satria. Lalu waktu hampir magrib, ia memutuskan untuk mencari tempat untuk berbuka terlabih dahulu, tidak ia sangka sisa kenangannya bersama Satria masih sangat jelas dipelupuk matanya, ia menyusuri jalan yang ia lalui bersama Satria. Meskipun saat itu, Cita mengendarai motor dan Satria juga mengendarai motornya sendiri. Mereka masih menjaga adab berteman secara islami. Nacita berjalan ke arah alun-alun dan lalu memesan bakso serta es degan yang sama seperti pada waktu itu. Nacita tersenyum memandang jalanan yang sangat ramai. Orang-orang berlalu lalang, dengan segala aktivitasnya. Lalu ia pun menyudahi makannya dan beranjak untuk sholat pada sebuah masjid besar didepan alun-alun berada.

            Nacita ingat benar, saat ia berdoa di masjid ini.

“Ya Allah, ketika memang ia adalah yang terbaik bagiku, maka berikanlah jalan yang terbaik bagi kami”.

            Degg, jantung Cita seakan berburu dengan nafasnya. Ia menepuk keningnya dan segera tersadar dari lamunannya.

            “Ternyata Allah benar-benar mendengar doaku. Allah memberikan jalan terbaik bagi kami berdua. Ternyata ini jawaban yang selama ini aku cari. Aku dan dia serta perasaan kami, memang tak seharusnya ada saat itu. Oh, bodohnya aku…Kak Satria kamu benar, Karan kamu benar. “

            Perasaan Nacita semakin tak karuan, ia hanya bisa termenung sesaat sebelum mbak Fira memintanya bertemu di suatu tempat.

***

Sesampainya ditempat janjian ia dan mbak Fira, ia melihat motor Karan juga terparkir di sampingnya. Perasaannya semakin tak karuan. Namun, tiba-tiba saja hpnya berdering. Dari kakaknya.

“Assalamualaikum, Halo kak Hadi, ada apa?”.

“Waalaikumsalam, adikku, apa kamu sibuk? Bisa ketemu kakak? Ini kakak juga sedang bersama Ayu , ayo makan bersama. Masa kamu sombong sekali, sudah pulang dari lombok eh nggak nemuin kakak dulu”.

“Haha, maaf kakak. Cita sibuk nih. Kak, nanti aku telepon lagi ya, Cita ada janji bertemu seseorang”.

“loh, loh, Cit, kakak juga ingin mempertemukan kamu dengan seseorang. Ayolah datang kesini”.

“Ah, kakak, kapan-kapan saja ya? Cita buru-buru nih, nggak enak sudah lama ditunggu. Ayu kan orangnya? Haduuu…dasar pengantin baru. Sok pamer deh. Week..”

Belum sempat Hadi berbicara lagi, Cita sudah menutup teleponnya. Ia pun bergegas masuk ke dalam dan mencari keberadaan mbak Fira.

“Mbak Fir-a..su-dah la-ma ya nunggunya”. Suara Nacita terbata-bata karena ternyata Karan juga satu meja bersama mbak Fira dan suami mbak Fira. Nacita semakin bingung harus berkata apa. Akhirnya ia hanya bisa tersenyum dan sedikit menyapa Karan lalu duduk dan masing-masing menundukkan pandangannya.

***

            “Nah, nduk. Kamu sudah mengerti kan maksud Karan disini. Proposal Karan apa sudah dibaca nduk? Kami semua disini sekarang menunggu jawabanmu”.

            Kepala Nacita terasa sangat berat dan pusing. Ia memijat-mijat kepalanya yang sedang nyut-nyutan, sementara Karan hanya tersenyum melihat tingkahnya yang sama sekali tak berubah, tetap apa adanya. Akhirnya ia membulatkan tekadnya untuk menjawab mbak Fira. Ia pun menegakkan kepalanya hendak menjawabnya, namun seketika saja matanya berair karena dihadapannya, ditempat yang agak jauh dari pandangannya tepatnya dipintu masuk, ia melihat Satria masuk dan pandangan mereka bertemu. Sontak Nacita mengalihkan pandangannya ke Karan dan menjawab kebingungungan Karan dengan senyum yang dipaksakan.

***

            Sebuah pesan memenuhi layar hp Nacita yang sejak tadi berbunyi panggilan telepon berkali-kali namun tak diangkatnya.

            Nacita, aku tahu kamu pasti sangat membenciku. Namun kamu tidak tahu betapa sakitnya aku melihatmu kembali bersama Karan dalam bingkai pandanganku. Andai waktu bisa kuputar kembali Cit, aku benar-benar tidak akan membiarkanmu pergi sedikitpun dari sisiku. Selama ini aku selalu berpikir kalau kau akan menungguku. Sudah kukatakan padamu cit, kalau kamu adalah yang pertama dan terakhir dalam hidupku. Maafkan aku telah membuatmu sakit.

SATRIA

            “Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?”.

            Lagi dan lagi Nacita hanya bisa termenung memperhatikan layar hpnya yang terpampang pesan Satria.

            Sajak-sajak kubangun dengan termangu

            Dalam keterasingan tangisku mengadu

            Tak beranjak, tangis mengharu biru

Dalam keterpakuan, angan-angan menari bersama sang waktu

            Tak ada jawaban malam itu. Tangisnya beradu dengan dentangan waktu yang menunjukkan kuasanya. Nacita ingat betul akan janjinya pada Satria, namun ia juga tak bisa terima akan sikap Satria yang menghilang begitu saja. Sedangkan Karan, ia yang selama ini menjaga cintanya dalam luka hatinya akhirnya ingin membaginya dengan Nacita. Malam itu di mulutnya ia terus berdizikir mentasbihkan kebesaran kuasa Tuhannya. Ia berserah mencari jawaban di sepertiga malam.

***

“Lukas, Deny, jangan lari-lari terus nanti jatuh. Ibu pusing melihat kalian sedari tadi kejar-kejaran. Ayo ikut Ibu membantu teman-teman kalian yang sedang membuat kompos di sana. “

“Lukas nggak mau Bu. Hari ini Lukas ingin main saja sama Deny. Kemarin seharian tak bertemu Deny di lampu merah. “

“Iya Bu Gulu. Deny juga kangen sama Lukas. Hanya saat hari minggu ini Deny bisa bertemu Lukas disini. Di sekolah kita, kalau pas ngamen Deny jalang ketemu Lukas”.

Nacita merasa sangat terharu mendengar alasan bocah-bocah lugu itu. Ia lalu menghampiri mereka dan memeluk mereka.

“Lukas, Deny, Ibu tau kalian sangat dekat, tapi kalau lagi di sini Lukas sama Deny juga harus maen sama yang lain ya. Kita belajar dulu, nanti boleh deh main. Gimana?”.

“Oke Bu, tapi Ibu nanti juga main sama kita ya? Kita kan kangen hanya bisa ketemu Ibu satu minggu sekali, Ibu sih sibuk. Jarang di sekolah alam”, Ujar Lukas dengan protes polosnya.

“Oke, Ibu janji”.

Lukas dan Deny pun bergegas pergi dan bergabung bersama teman-temannya, anak-anak jalanan lainnya yang kini sedang berlatih membuat kompos bersama kakak-kakak relawan pengajar sekolah alam. Anak-anak itu selalu membuat Nacita tenang.

Akhirnya setelah sekian lama mimpinya membangun sekolah alam dapat terwujud. Ia hampir saja melupakan masalahnya bersama Satria dan Karan. Sebenarnya ia telah memberikan jawaban atas khitbahan Karan padanya, namun Satria tidak pernah mengetahui hal itu.

“Bu guru Nacita”.

“Ya”.

Nacita seketika berbalik dan terkejut akan yang ada dihadapannya kini.

“Kak Satria”.

“Hehe, iya Cit. Ini aku Satria”.

“A-ada A-apa kakak kesini?”

“Aku ingin menjemput seseorang yang sudah sangat lama menungguku”.

“Hah?”

“Cita, bukankah dulu aku selalalu mangatakan padamu, tetaplah disampingku dan jangan kemana-mana. Bukankah sejak dulu aku selalu mengatakan kalau kamu harus sabar menungguku. Sekarang aku mau menjemput orang yang dulu mengatakan kalau ia akan selalu menungguku”.

“Maaf kak, Cita nggak bisa. “

“Ke-kenapa Cit? Bukankah kamu sudah menolak khitbahan Karan?”.

“Hah? Bagaimana kakak bisa tahu?”.

“Cit, maafkan aku. Waktu itu membuatmu benar-benar sakit hati. Aku mendengar semuanya dari Ayu. “

“Sudah Cita maafkan. Tapi Cita benar-benar sudah tidak bisa untuk menunggu kak Satria lebih lama lagi”. Hehe

“A-artinya kamu nerima lamaranku?”

“Yee, emang siapa yang melamar? Kakak belum mengatakan mana bisa aku menjawabnya”.

“Ahahaha. Iya, iya. Ya udah deh, jadi males bilang nih. Yang bakal jawab rese’ sih orangnya. Ahahaha”.

“Oh gitu…”

“Oke fine..”

“Ah kakak, kenapa kata-kataku diambil sih? Nyebelin tau nggak?”

“Abis, apa lagi coba senjatamu, selain bilang, oh oke, oke fine. Week “

“Ihhh, kak Satria. Nyebelin”.

“Ahahaha, ngambek-ngambek”

“Tauu”.

“Ahaha, udah jangan manyun. Jelek”

“Biarin”

***

Kini sajakku berjajar rapi

Kidung cintaku terangkai apik dalam nada bahagia

            “Cita, cepat sedikit para tamu sudah pada datang.”

            “Iya, kak Satria bawel deh”

            “Ih, ih apa coba. Eh mulai sekarang panggilnya mas Satria.

            “ndak mau”.

            “loh?harus mau. Kan harus nurut sama imamnya”

            “Iya, mas Satria”

            “haha.. asik. Puk.,.pukk…makmum yang baik”.

            “Ih, tukang paksa”

            “Biarin yang penting aku suka” haha

Kidung cinta Nacita berdenting-denting bahagia. Terdengar indah dalam dengungan doa… Kini ia bersama yang dicinta. Tuhan selalu memberikan rencana terbaiknya melebihi rencana terbaik yang dibuat oleh manusia.

Rhesi Elmia Ningsih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: