Hujan di Sembalun

Hari ini aku mau ke Sembalun. Kalian tidak usah ikut jika tidak suka”.

“Kamu sinting ya Nes, beberapa hari ini kita sendiri mau liburan sekalian observasi pada anak-anak di daerah ini. Eh, kamunya nongkrong di Sembalun terus”, Kania nampak kesal.

“Kalian tidak pernah tahu makna penyesalan. Aku akan memenuhi janjiku. Menunggunya di Sembalun”.

“Nes, sadarlah ! Hujan tak akan pernah datang di Sembalun”.

Kali ini Aryo yang meradang mulai menghalangiku. Namun sorotan matanya yang tajam tak kuendahkan sama sekali. Aku tetap melangkah pergi setelah mengeluarkan si Jolie, kuda Pak Ryan.

“Maafkan aku. Aku terima jika kalian ingin memarahiku. Namun izinkan kali ini aku bicara pada hujan. Aku yakin hujan datang  kali ini”.

***

Lagi, aku menunggunya di ujung jalan itu. Tak sedikitpun kudengar langkah kaki datang ke arahku atau arah sebaliknya. Suasana sunyi seperti ini sering kurasakan di tempat ini, namun tetap saja berkali-kali kuhentakkan sebelah kakiku ke tanah untuk mengusir bosanku tetap saja sepi ini tak mau pergi. Di bawah pohon rindang ini kusandarkan kepalaku yang mulai lelah menanti hujan. Orang itu pernah bilang padaku bahwa setelah hujan turun di savana, maka seluruh savana ini akan berwarna hijau.

“Benarkah apa yang kakak katakan? Jadi setelah hujan yang paling indah selain melihat pelangi adalah melihat savana yang hijau?”. Ia mengangguk dan tersenyum manis padaku.

“Lantas, savana mana yang terindah menurut kakak?”, aku masih antusias. Senang sekali rasanya dapat selalu merangkai puzle-puzle mimpi bersama orang di hadapanku ini.

“Sembalun, itu di dekat bukit Rinjani. Kamu pasti sangat suka. Kapan-kapan kita kesana ya Nes, di sana pasti banyak bunga-bunga liar semacam dandelion. Bukankah kamu menyukainya.”

“Emm…”.

Aku hanya mengangguk senang dan polos saat itu. Aku benar-benar berharap mimpi indah ke Sembalun melihat hujan dan menanti savana setelah hujan bersamanya akan dapat terwujud. Suatu hari nanti, tepatnya satu tahun yang lalu kami berjanji pergi ke Sembalun ini, namun karena kecerobohanku aku tak pernah bertemu bahkan merangkai puzle mimpi bersamanya lagi. Dia pergi, benar-benar pergi.

Aku terbangun dari lamunan sesaatku mengenangnya. Mengenangnya selalu membuat bibirku menyunginggkan senyum.

“Aku masih menunggumu di sembalun ini, kakak kaki panjang jika aku memohon pada hujan akankah hujan mengirimkan pesanku padamu”.

***

Aku tahu semua orang mungkin telah jengah akan sikapku yang kadang setengah gila apalagi saat hujan turun. Aryo, Kania, dan sahabat-sahabatku yang lain belum bisa menerima saat aku mencoba bicara pada hujan. Aku memang tak benar-benar bicara pada hujan, aku hanya ingin tetes-tetes hujan yang turun itu menyimpan rapat rahasia-rahasiaku dan mimpi-mimpi yang kurangkai bersama kakak kaki panjang. Aku tidak mau dikatakan aneh, mereka saja yang aneh tidak mau menerima perbedaan disekitarnya. Mungkin hanya satu orang yang bisa memahamiku saat aku ingin benar-benar bicara pada hujan, karena ia pernah melakukannya untukku.

“Kenapa murung? Ilernya netes banyak tuh, kalau kamu manyun, diusap dulu sana. Haha”

“Puas ketawanya? Puas-puasin dulu deh”

“Haha, ada apa? Hari ini aku jadi pendengarmu yang baik. Ayo cerita”.

Bersama orang ini, aku selalu bisa menumpahkan semua yang aku rasakan. Namun, egoku yang besar tak pernah membiarkan air mataku menetes dihadapannya. Karena Aku sebenarnya tak ingin membuatnya selalu khawatir. Aku bahkan punya mimpi sederhana yakni dapat  membuatnya tersenyum setiap hari. Aku ingin, akulah yang menjadi alasannya untuk selalu tersenyum.

“Eh, bengong. Ngiler lagi tuh. Usap dulu gih, haha. Ayo cerita”

“Duh, orang nggak ngiler juga. Nih, nih, tak usap pakek keset.” Sambil manyun aku meneruskan ceritaku, sekali lagi kutatap wajah yang kini tengah menahan tawa itu.

“Kak, orang-orang mengira aku aneh tiap kali aku bicara pada hujan. Padahal mereka tidak pernah tahu dalam setiap tetes hujan yang turun jika kita meminta dengan sungguh-sungguh pada Tuhan maka tetes-tetes hujan itu akan mengamini doa kita”.

“Memangnya kalau hari ini turun hujan, Nesya ingin ngomong apa sama hujan? Biar kakak yang sampaikan. Kali ini biar orang-orang yang menganggap kakak aneh. Gimana tawarannya?”.

“Hah? Beneran Kak? Oke Deal.”

Aku benar-benar merindukan saat-saat membuat penawaran semacam ini padanya. Kadang aku dan dia saling mencemooh kegemaran masing-masing. Sering aku  taruhan dengannya dalam pertandingan bola. Kadang kita berdua adalah partner yang hebat dalam diskusi tentang sosial, politik. Aku ingin mengenalnya dan dunianya. Begitupun ia, ingin mengenalku dan duniaku. Semua kenangan ini lagi-lagi membuat bibirku menyunggingkan senyum. Aku berharap hari ke lima di Sembalun ini bisa menikmati hujan. Aku ingin melihat dunia yang sama-sama ingin kita lihat.

***

Aku hampir marah, semua rencanaku untuk kembali menyendiri di savana gagal total. Aryo membodohiku dengan semua tipu dayanya. Awalnya Kania dan Aryo mengatakan ingin ikut denganku melihat pemandangan indah di savana yang aku gilai itu. Namun, ternyata mereka membawaku ketempat yang lain. Sepanjang jalan aku hanya bisa diam menahan marah. Namun mereka berdua bergeming seolah tidak pernah berbuat salah.

“Sudahlah Nes, aku jamin kamu akan menyukai ini lebih dari savana. “ Dengan sangat percaya diri Aryo yang sudah seperti kakak kandungku itu mengatakan itu. Aku hanya melengos menghadap luar. Sedangkan Aryo cekikikan sambil menyetir sebuah Pajero milik Pak Ryan. Memang, apapun yang kami butuhkan Pak Ryan menjaminnya dengan baik, beliau adalah pemerhati lingkungan yang sudah seperti ayah kedua kami masing-masing.

“Nes, turun. Itu sudah ada yang menunggumu”.  Kania dari balik kaca mengagetkan lamunanku. Aku segera keluar mobil dengan ogah-ogahan. Namun saat kulihat apa yang ada di depan mataku, ini memang sangat menakjubkan. Sebuah pemandangan yang sangat aku rindukan.

“Kak Nesya datang, Kak Nesya, Yee”.

Berpuluh-puluh anak kecil berlarian mendekatiku dari atas sebuah gazebo. Aku yang sangat senang dapat melihat mereka kembali setelah setahun yang lalu aku meninggalkan mereka untuk pulang kampung kini dapat menemui senyum-senyum malaikat kecil ini kembali. Hari itu ingin kuhabiskan dengan mereka semua waktuku.

“Kak Nesya, Didit tanya. Kakak masih suka menunggu hujan di Sembalun nggak? Kali ini, mau Didit temenin lagi nggak?”.

Kata-kata Didit segera membawaku pada kejadian di Sembalun satu tahun yang lalu. Disaat aku dan Didit menunggu orang itu di Sembalun. Saat itu hari hampir gelap, aku hampir lupa segalanya. Rengekan Didit yang ingin pulang karena perutnya sakit pun aku hiraukan. Hingga ia menjadi sangat pucat dan lemas, aku menjadi sangat panik. Namun, orang itu tak kunjung datang.

Setelah aku membawa Didit ke rumah sakit beberapa jam kemudian, dokter mengatakan bahwa telat beberapa menit saja infeksi lambung Didit akan menjadi sangat parah. Aku sangat lemas dan putus asa. Aku merasa gagal menjadi seseorang yang Didit dan anak-anakku banggakan. Ternyata aku tak lebih dari seorang yang egois. Sejak saat itu, aku tak ingin berkomunikasi dengan orang itu. Memang itu bukan salahnya, namun untuk menyalahkan diriku sendiri atas kejadian ini terasa sangat berat. Sejak hari itu aku kehilangan senyumku, dan aku ingin punya kesempatan menyampaikan pada hujan kalau aku merindukannya.

***

Hari-hari berikutnya ku habiskan dengan bermain dan belajar bersama anak-anak daerah itu. Mereka suka berkuda dan sangat ahli dalam berkuda. Alhasil setelah belajar aku dan mereka berkuda. Sedangkan Kania dan Aryo sibuk dengan fotografi mereka menjadikan kami objek hidup mereka. Jika saja Kania bukan sahabatku dan Aryo tak kuanggap seperti kakakku, aku sudah melempari mereka dengan batu-batuan besar di kali. Seenaknya saja, menjadikan kami objek tanpa bayar pula.

Anak-anak itu mengajakku menunggu hujan di Savana. Menurut tetua desa, hari ini akan turun hujan sehingga kami harus pulang lebih awal. Entah kenapa, aku tak lagi terterik kembali. Kini, aku kembali takut untuk bermimpi atau berbicara pada hujan. Aku cenderung diam.

***

“Wah, syukur kamu kemarin pulang lebih awal bersama anak-anak Nes. Kemaren, Sembalun hujan Nes dan katanya sangat mengerikan jika hujan pertama di sembalun. “ Aryo dengan membawa sepiring pisang goreng dan teh hangat ditangannya menjajari Nesya yang duduk di serambi depan.

Tanpa pikir panjang, aku yang mencerna baik-baik omongan Aryo langsung berlari kedalam dan lalu berjalan cepat keluar dengan mengambil Jolie. Aryo yang belum sempat berkata-kata hanya tertegun melihatku pergi secepat kilat. Aku sempat meliriknya dan mengisyaratkan aku akan baik-baik saja. Kupacu  kuda ini ke arah Sembalun dengan sangat cepat. Aku tertegun melihat hamparan savana yang luas ditumbuhi oleh rumput hijau. Rupanya beberapa hari aku tak kesini, savana ini telah diguyur oleh hujan hingga menjadi padang rumput yang sangat indah ini.

Aku tak kuasa menitikan air mata bahagiaku. Akhirnya aku bisa melihat savana sembalun yang indah ini. tanpa kusadari seseorang tengah menikmati keadaan yang sama denganku. Kupikir mungkin ia juga punya mimpi yang sama denganku melihat indahnya padang savana sembalun setelah hujan. Entah kenapa aku memikirkan ide konyol kembali, aku membuat burung-burung bangau kertas yang di dalamnya kutulisi harapan-harapanku untuk bertemu dengan kakak kaki panjang yang sangat kurindukan. Tak terasa hampir dua jam aku di sini membuat burung-burung bangau kertas ini dan lalu menggantungkannya pada sebuah pohon kecil di tengah savana yang indah ini.

“Hey, burung nakal sampaikan pada hujan. Agar dia ikut menyampaikan pada Tuhan semua harapan yang telah kupanjatkan. Karena aku takut jika menunggunya seperti hari-hari yang lalu, maka ia takkan datang lagi ke savana ini”. Aku kembali dengan langkah hati yang gembira, meninggalkan segala kegundahan hati di savana.

***

Ini hari terajhirku di lombok. Ini hari terakhirku dalam kunjunganku kali ini pergi ke savana sembalun. Aryo dan Kania juga Pak Ryan sempat mewanti-wanti agar aku berhati-hati, rupanya curah hujan sedang tinggi bulan ini. Mereka takut hujan di savana akan ada petir.

Setelah puas berkuda di Sembalun aku melihat burung bangau kertas yang aku gantungkan di pohon, tengah savana itu. Saat kulihat dari jauh, aku sempat pesimis karena kukira burung-burung itu hancur layaknya pohon yang terkena amukan petir sepertinya. Namun setelah ku amati lebih ternyata burung-burung bangau itu masih menggantung utuh, namun berlapis plastik.

“Hah? Berlapis plastik? Aku kan memang membiarkannya tanpa pelindung agar hujan membacanya. “

Kluihat satu persatu isi bangau kertas itu ternyata ada jawaban dalam setiap kertas yang ku tulis.

Hujan, kau tahu? Aku merindukan orang yang selalu mengkhawatirkanku. Dia selalu mengawasi pola makanku agar infeksi lambungku tak kumat kembali. Dia selalu khawatir aku tidak meminum obatku. Orang letoy itu di mana ya Jan?

Hemm..jadi kau merindukannya hingga sedalam itu. Padahal ia tak merindukanmu sama sekali😛 kau terlalu cerewet dan keras kepala. Orang itu selalu di dekatmu namun kau tak pernah sadar.

“Nah loh? Apa-apaan ini? kenapa hujan bisa nulis? Ah aku sudah mulai gila”. Kubuka lembar berikutnya.

Hujan, bilang padanya. Aku ingin dia menghubungiku lebih dulu, karena aku sudah tak tahu lagi harus menghubunginya dengan cara apa. Bahkan radar agen untuk bicara melaluimu tak berhasil mendatangkan ia padaku.

Nah loh, siapa suruh kamu mengganti semua nomermu dan menutup akses komunikasi dengannya. Dia hanya ingin yang terbaik bagimu. Nomornya selalu ia pampang pada setiap akses jejaring sosial agar kau dapat menghubinginya. Namun tak pernah kau lakukan.

“Loh. Loh, kenapa jadi semua aku yang salah. siapa sih yang iseng ini. Jangan-jangan Aryo. Sialan”. Kubuka kertas yang sangat menarik hatiku, benda itu tergantung menyendiri di sisi yang berlainan.

Nona yang selalu membuat saya khawatir. Berbaliklah.

Seketika aku berbalik dan kurasakan jantungku berdegub semakin kencang, sungguh aku berharap itu adalah kakak kaki panjangku. Ternyata benar dugaanku, ini semua ulah Aryo. Ia meringis dibelakangku. Aku langsung menghentakkan kakiku dengan keras, kecewa dengan semua anganku. Hampir saja aku bergerak pergi, Aryo dengan tanpa sopannya melemparku dengan ranting.

“Hay, nona pemimpi. Ayo pulang, semua telah menunggumu untuk mengucapkan selamat tinggal”.

“Hash, kenapa sih kamu selalu mengganggu momen penting dalam hidupku. Aku tidak perlu pamit. Kau saja. Aku nanti langsung menuju rumah. Lagian janjinya setengah jam lagi”.

Dengan raut muka kesal dan mengomel Aryo mengomel namun dia tak menyerah, ia akhirnya dapat membujukku dengan tipu dayanya. Lagi-lagi dia mengancam tidak mau diet jika aku tak ikut dengannya. Demi kesehatannya tentu saja aku menurut.

“Ingat, kamu hutang nyawa lagi. Nggak mau diet kan? Sama aja bunuh diri!” , ujarku ketus namun tak ditanggapinya.

***

Kalian tahu? Kenapa aku membenci perpisahan? Karena pasti ada tangis kan? Aku tak ingin menangis! Aku pernah berjanji pada orang itu bahwa mulai saat itu aku akan menangis hanya di depannya, karena aku tahu bahwa aku tidak akan menangis namun tertawa gila bersamanya.

Anak-anak manis ini mulai memelukku satu persatu dan menumpahkan pilek serta lelehan umbel dan tangis mereka di bajuku. Tidak masalah, aku menyayangi mereka. Mereka senyum terindahku di Sembalun. Namun, saat kuhitung mereka satu persatu ternyata Didit tidak tampak, awalnya aku sangat kebingungan mencarinya namun beberapa saat kemudian ia muncul dengan seseorang yang sosoknya asing bagi anak-anakku. Mereka bertanya-tanya.

Sosok itu seketika menjadi magnet anak-anakku, Kania yang kecentilan, dan kak Aryo yang kegirangan.

“Satrio, sahabatku. Bagaimana kabarmu?”, Aryo terlihat sangat senang. Apalagi Kania yang sok akrab dengannya. Entah kenapa suasana ini membuatku jengah.

“SSh..”, aku berlalu pergi meninggalkan kerumunan orang-orang alay tersebut dan memacu kudaku sangat cepat. Sebenarnya bukan rasa marah yang kurasa, aku hanya ingin secepatnya kabur dari tempat itu dan pergi sejauh yang aku mampu. Pertahananku hampir roboh dengan semua kejadian yang meilbatkan Didit di dalamnya. Di sembalun, kembali aku merenung, di bawah sebuah pohon yang burung-burung bangaunya masih tergantung.

“Ya Tuhan, kali ini aku ingin benar-benar berbicara pada hujan”. Ku pejamkan mataku, seolah merasakan kelelahan yang teramat dalam. Mungkin aku terlelap, sebelum suara gemeretak gigi seseorang yang tengah menggigil membangunkanku.

“Apa yang kak Satrio lakukan? Kakak bisa sakit jika hujan-hujanan gini. Kenapa malah memayungi aku sih? Hash, dasar manusia aneh”.

Kak Satrio hanya bergeming tetap membiarkan dirinya menggigil sementara aku hampir tidak bisa menahan nafas akan sikapnya. Ia selalu seperti ini. Dasar manusia bodoh, bodoh. Makiku dalam hati. Aku melihat sorot matanya yang menegadah ke atas, sehingga aku mengiukti gerakkannya.

“Nes, hujan. Cepatlah bicara padanya, aku ingin mendengarmu bicara pada hujan sekali lagi. “

Aku segera mengangguk mengerti.

“Hujan, kau tahu orang bodoh yang selalu mengkhawatirkanku kan? Dia saat ini berada di sampingku. Ku mohon ucapkan terimakasih pada Tuhan yang sebesar-besarnya karena telah mengabulkan permohananku untuk melihat hujan bersamanya di Sembalun. Aku berharap dapat selalu menikmati hujan bersama orang ini. Karena jika dia memberikan payungnya untukku, maka aku bisa memberikan payungku untuknya”. Aku tersenyum dan kembali menatap kak Satrio.

“Jadi? Kau membawa payung?” Ujarnya sedikit kaget..

“Heem. “ jawabku singkat sambil menahan tawa.

“Kenapa tidak bilang? Tau gitu aku nggak usah hujan-hujanan gini. Dingin tahu”, kak Aryo nampak kesal kupermainkan.

“Yee, siapa suruh sok alay? “. Dia yang mulai menggurutu tidak jelas, aku hanya tersenyum menatapnya. Aku tahu ia tidak benar-benar marah. Karena ia adalah kakak kaki panjangku yang akan selalu ada untukku, akan selalu memberiku mimpi-mimpi yang tak kan pernah berakhir.

***

Kak, hari ini jangan lupa aku menunggumu di Sembalun. Bukankah kau janji bisa datang hari ini? Aku ingin bicara pada hujan bahwa aku sangat sedih karena sebentar lagi akan meinggalkan pulau eksotis ini. aku berharap bisa sedikit lama di sini.😥

“Hari ini? Ah ya aku janji padanya? Namun bagaimana dengan pengurusan izin memperpanjang membuka pelatihan super camp untuk anak-anak kurang beruntung di sana? Aku benar-benar ingin memberi kejutan padanya”.

Seharian ini aku berusaha untuk dapat memperpanjang izin kontrak mengajar untuk sekolah Nesya di Dinas Pendidikan setempat. Namun, sepertinya akan memakan waktu yang lama. Ternyata dugaanku benar adanya. Ini memakan waktu sampai sore. Aku yang sebetulnya telah sampai di tempat ini beberapa hari yang lalu, selalu mengikuti setiap aktivitasnya tanpa sepengetahuannya. Aku hanya ingin menjaganya semampu yang aku bisa. Selama ini, aku terlalu khawatir dia akan sendiri di sini. Namun, ternyata ia memang wanita yang luar biasa. Ia dapat beradaptasi dengan sangat cepat. Aku lega mendengarnya.

            Hari ini aku ingin memenuhi janjiku sekalian memberikan kejutan untuknya. Namun ternyata aku terlambat, ia tampaknya terlalu lama menunggu. Hari ini Sembalun hujan, padahal ia ingin sekali bicara pada hujan.

            Berkali-kali ia kuhubungi namun tak pernah mendapat respon darinya. Aku patah arah, aku menyerah hingga aku bertemu dengannya di suatu pagi di bandara. Aku mengikutinya dan berhasil sampai di sini, satu tahun persis sejak kami kehilangan komunikasi. Ternyata ia tidak berubah, masih nona hujan bukit sembalun. Ia bahkan menggantungkan bangau-bangau kertas penuh curahannya atasku, dan bodohnya aku membalasnya.

“Ternyata, aku selalu nampak bodoh di hadapan gadis yang kini mengeluarkan payung manchester merahnya. Aku sempat merinding memakainya, namun ia memaksaku. Tentu aku tidak ingin, di tengah hujan memakai payung merah, menurut sugesti sih menggiurkan petir. Ihh, aku tidak mau. Lebih baik aku berlari, karena sampai kapanpun aku tidak akan sependapat dengannya tentang yang satu itu. Aku masih mencintai CHELSEA. Tentu aku berlari sekencang yang aku bisa. Sedangkan ia hanya tertawa dan teriak.

“Chelsea the pink”, Aish. Aku sempat meradang ingin membalasnya.

“Manchester is blue”.

Ternyata dia tak ada hentinya mengoceh pada hujan.

“Hujan tolong ya ikut amini doaku pada Tuhan, agar laki-laki berkaki panjang itu akhirnya mencintai Manchester. Haha”

Aku yang tidak terima dengan doanya, ikut melakukan hal bodoh.

“Jangan pernah biarkan hal itu terjadi Tuhan”.

See, kau lihat. Doamu dikabulkan, kita bisa meilhat dan bicara pada hujan di Sembalun.

-Selesai-

Teruntuk Om kaki panjang  ” ini fantasiku, mana fantasimu?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: