S U M P A H

Image

Jgerrr…. Petir menyambar tepat saat keris milik Ramada mengenai ulu hati Pitaloka.

“Apa yang kamu lakukan Dinda? Ini bukan jalan terbaik Dinda. Oh..”

Ramada mulai panik dan terisak perlahan. Samar-samar kulihat jemari cantik milik Pitaloka menggenggam erat jemari Ramada. Dalam nafas yang kini mulai tersenggal-senggal dia masih sempat tersenyum. Melalui matanya aku tahu, ia ingin menyampaikan pada Ramada bahwa inilah jalan terbaik yang ia putuskan sepersekian detik setelah bertemu kembali dengan sang Mahapatih, kekasihnya itu.

“Inilah yang terbaik Kanda. Jika di kehidupan ini kita tidak di takdirkan untuk bersama, maka di kehidupan lainnya aku akan memohon pada Sang Hyang Widi untuk mempersatukan kita. Percayalah Kanda, aku akan setia menunggumu di sana, dikehidupan yang hanya akan ada kita dan kebahagian”.

***

Jika ada satu nama yang patut untuk dipersalahkan atas meninggalnya Pitaloka, maka nama itu adalah aku. Dalam kebisuan yang memilukan ini, aku hanya bisa menunduk menatap wajah kasih Pitaloka dan Ramada. Kini, dalam rentasan cahaya bulan yang memantul pada pisau kecil yang menancap di ulu hati Pitaloka, mereka nampak tersenyum, berpegangan tangan dan saling mentertawakan keadaan masing-masing. Rupanya Pitaloka tahu benar bagaimana cara ternikmat untuk melenyapkan nyawanya dan mencari perhatian Ramada. Meskipun berkali-kali Ramada mengutukku, menyesali kehadiranku, namun apa yang bisa kuperbuat untuknya, tak ada. Apakah harus pula, melenyapkan diri seperti halnya Pitaloka kekasihnya? Jika aku sanggup, dan aku bisa tentu akan kulakukan untuknya, sayangnya aku tak mampu untuk memoksakan diriku sendiri. Aku adalah bagian tak terpisahkan dari suksesnya Ramada. Tentu saja, ia takkan semuda itu untuk melenyapkanku meskipun telah membuat kekasihnya meninggal.

***

Seharusnya aku dan maha patih Ramada atau orang-orang lebih sering memanggilnya Gajah Mada hidup bahagia seperti selama ini, sebelum Ramada terbakar cemburu lantaran sang Prabu Hayam Wuruk ingin mempersunting Diah Pitaloka kekasihnya dari kerajaan Sunda. Harusnya Ramada hidup bahagia denganku, dengan segala ambisinya ia bisa menggunakanku sebagai kekuatannya, sebagai penyemangatnya, namun setelah aku tahu ternyata aku hanyalah batu pijakan untuknya mendapatkan Pitaloka, aku merasa semuanya akan berantakan. Mimpinya, mimpi rajanya, dan mimpi rakyatnya. Hingga saat di tengah-tengah perjuangannya menaklukkan negeri-negeri, seringkali kudapati ia termenung menatap gambar kekasihnya yang tinggal jauh dari Jawa ini. Namun harus kuakui bahwa Pitaloka begitu cantik, parasnya jelita, pantas saja jika Ramada jatuh hati padanya.

Seringkali kudapati ia melamun, mengenang masa mudanya di kerajaan Sunda bersama Pitaloka. Ramada memang seorang pemuda yang cerdas dan multitalenta, segala hal bisa ia lakukan saat ia mempunyai keinginan yang kuat. Ramada juga sangat berbakat, hingga ia diizinkan untuk keluar masuk istana kerajaan dan disanalah asal mula ia bertemu dengan Pitaloka dan menjalin kasih dengannya. Namun sepertinya Sang Raja mulai kawatir dengan keadaan tersebut. Sang Raja pun mulai mencium adanya kisah kasih antara keduanya.

***

“Adinda, harusnya aku segera melamarmu, namun siapakah aku? Aku bukan siapa-siapa, aku hanya seorang pemuda yang punya segenggam mimpi untuk membuatmu selalu bahagia namun itu tidaklah cukup”. Kata-kata semacam ini selalu terujar darinya saat ia melamun menatap gambar Pitaloka.

Pitaloka yang diam-diam sangat mencintai Ramada samar-samar mendengar ayahnya berbicara pada permaisurinya. “Kita harus segera memisahkan keduanya, hal semacam ini tidak boleh terjadi. Aku harus menyingkirkannya dari kerajaan ini, meskipun sebenarnya aku tak ingin kehilangan orang berbakat sepertinya. Namun, jika ia kubiarkan menjadi prajurit, maka aku yakin dia akan menjadi orang hebat dan ambisinya untuk bersanding dengan Pitaloka semakin besar. Hal ini tidak bisa terjadi, bagaimana mungkin darah ningrat bercampur dengan darah jelata?” .

Pitaloka hanya bisa menangis dan tersedu hingga Ramada yang tak sengaja mendengarnya pula ikut perih hatinya, bukan lantaran kata-kata yang diucapkan oleh Raja, sebab ia sudah tahu pasti keadaan yang terjadi ketika ia berani mencintai seorang putri, maka konsekuensi inilah yang harus ia terima, hanya saja ia tidak tega melihat hati orang yang ia cintai hancur dengan semua harapan yang telah mereka lambungkan.

***

Aku muak, ketika Ramada menceritakan ini berkali-kali bagaikan orang gila. Ia selalu bercerita bahwa karena rasa cintanya yang begitu besar pada Pitaloka akhirnya aku ada. Berkali-kali kuperhatikan raut mukanya memurung ketika Prabu Hayam Wuruk menanyakan perihal gambar Pitaloka yang ditemukan emban di kamarnya. Rupanya sang prabu menaruh hati pada kekashinya tersebut, hingga ia mengirimkan lamaran langsung ke kerajaan sunda.

“Aku tidak bisa membayangkan, jika saja Prabu Hayam Wuruk bertemu dengan Pitaloka, bagaimana jika keduanya saling jatuh cinta? Aku tidak sanggup untuk membayangkannya. Sang prabu yang begitu gagah perkasa bertemu dengan Dinda Pitaloka yang lembut hatinya. Akankah adinda berpaling dariku. Prabu begitu sempurna, sedang aku bukanlah siapa-siapa, jauh dari kata sempurna”.

Menurutku, Ramada begitu bodoh dengan berpikiran seperti itu pada kekasihnya. Meskipun aku sedikit cemburu, namun aku tidak mungkin bisa mengekang perasaannya. Meskipun harusnya ia fokus padaku, fokus pada tujuannya untukku. Namun aku tahu Ramada begitu mencintai Pitaloka sekaligus begitu patuh pada sang prabu Hayam Wuruk, Raja kerajaan majapahit ini, sehingga ia takkan mungkin berpaling dan meninggalkanku hanya untuk Pitaloka.

***

Menurut kabar yang aku dengar, hari ini Raja,

Ratu, dan Putri dari kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk meminang Prabu Hayam Wuruk sesuai adat yang berlaku, yakni wanitalah yang melamar kepada pihak laki-laki. Meskipun aku tidak pernah tahu apa yang Pitaloka rasakan, namun aku tahu pasti bahwa hatinya mungkin terluka sama seperti yang dirasakan oleh Ramada.

Pitaloka melamun di sudut tandu, ia merasa sepasang mata tengah mengawasinya tajam. Ketika mata itu bertemu, perasaan aneh menggelayutinya. Seperti sebuah kerinduan yang teramat dalam. Mata yang Pitaloka lihat itu begitu tajam sorotnya, pemiliknya yang gagah dan tampan tak berhasil menyembunyikannya dalam gelap sekalipun. Pitaloka tersenyum penuh haru. Namun, saat ia hendak melangkahkan kakiknya keluar, ia merasakan beberapa prajurit tengah mengepungnya, hingga ia mengurungkan niatnya untuk mengejar kekasihnya yang menghilang begitu saja.

“Kamu harus lari, kamu harus pergi putriku. Maafkan ayahmu ini nak, jika saja ayah membiarkanmu bersamanya pasti hal semacam ini takkan pernah terjadi”.

“Apa yang ayah katakan? Aku yakin ini bukan perbuatan Kanda Ramada, dia tidak akan mungkin melakukan penghianatan kepada Rajanya, apalagi sampai berniat melukaiku Ayah”. Pitaloka menatap langit yang menjadi semakin gelap karena mendung menutupi sang pemilik malam.

Ramada termenung dalam pekatnya malam ini, setelah beberapa detik lalu ia melihat kekasihnya. Ia begitu rindu pada Pitaloka. Namun, ia tak bisa merengkuhnya dengan bebas, karena disaat Pitaloka menginjakkan kakiknya di Majapahit ini itu artinya ia milik prabu Hayam Wuruk. Hatinya pedih, hatiku juga pedih melihatnya seperti ini.  Namun, tiba-tiba saja Seno membuyarkan lamunan Ramada,  salah seorang prajurit kepercayaan sang patih itu meringsut masuk ke dalam kamar dan mengabarkan keadaan yang tengah terjadi.

***

“Mahapatih, hamba melapor. Maafkan hamba sebelumnya, beberapa prajurit menyerang rombongan dari kerajaan Sunda ketika memasuki gerbang utama.”

Ramada yang tersentak kaget, seketika berlari dengan kalap. Napasnya yang terengah-engah seketika terhenti rasanya melihat berpuluh prajurit yang tergeletak tak bernyawa. Dia sangat yakin prajurit yang kini tak lagi bernafas itu adalah prajurit dari kerajaan Sunda, terlihat dari seragam prajurit yang mereka kenakan, yang dulu sangat ia inginkan.

Ramada semakin hancur, ketika tak ia temukan mayat kekasihnya itu. Ia hanya melihat mayat-mayat prajurit yang berserahkan. Darah segar beberapa kali menyembur dari mulut prajurit yang mencoba untuk mengatakan beberapa hal pada Ramada. Seseorang diantara mereka yang masih hidup tampaknya mengenali perawakan Ramada atau sang maha patih Gajah Mada, ia mengatakan bahwa ia melihat sang Raja dan permaisuri diburu kearah hutan. Ramada langsung mengejar mereka dan menghajar satu persatu prajurit yang telah melakukan penghianatan ini. Ia begitu murka melihat wajah-wajah prajurit yang selama ini ia latih, begitu patuh padanya, kini harus ia bantai satu persatu. Hatinya sakit melihat darah yang ia tumpahkan karena kemurkaannya. Namun, bagaimanapun juga ia harus menemukan kekasihnya, Pitaloka.

“Bodoh, kenapa kalian seperti ini? Bukankah sudah ku katakan mereka bukan tujuan kita selanjutnya. Mereka bukan target kita, Raja sudah mengatakan berkali-kali”. Ia menangis tersedu, berputus asa dalam kepiluannya. Aku tidak tega melihatnya terluka begini, rasanya aku benar-benar menyesal dengan hadirnya diriku sendiri yang menyebabkan semua ini. Membuat hati Ramada hancur berkeping-keping. Kini kulihat ia terisak dalam tangis, berjalan layaknya orang gila semakin masuk dalam gelapnya hutan. Di tangannya, ia membawa selendang Pitaloka yang ia temukan dekat mayat sang Raja.

***

Ia kembali ke kerajaan dengan langkah gontai, disana ia dihakimi dan dituduh menghianati kerajaan dengan merencanakan penyerbuan ini. Prabu Hayam Wuruk yang tahu benar akan sifat patih tercintanya hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia tahu, patihnya takkan pernah melakukan hal itu. Ia tahu bakti patihnya terhadapnya. Namun harus ada yang dikorbankan, jika tidak maka hal yang lebih besar akan terjadi.

“Apa yang sebenarnya terjadi patih? Katakan padaku bahwa kau akan baik-baik saja dengan semua ini. Adakah yang kau sembunyikan dariku?” ujar sang Prabu yang begitu kawatir dengan keadaan patihnya.

“Maafkan hamba baginda. Engkau tahu benar bahwa hamba sangat mencintaimu dan negeri Majapahit ini melebihi nyawa hamba. Hingga hamba melahirkan sumpah palapa sebagai bakti rasa cinta hamba. Namun, yang tidak pernah engkau tahu adalah sumpah ini lahir karena rasa cinta hamba yang begitu besar pada seseorang yang kini tak akan pernah hamba jumpai kembali”.

Sang prabu begitu mengerti apa yang sang maha patih rasakan. Ia semakin merasa bersalah, seandainya ia dan putri Pitaloka menikah maka dia sangat yakin akan kehilangan hati patihnya itu. Sang Prabu sangat terpukul dengan keadaan ini, apalagi ketika ia harus mengambil keputusan untuk mengkambing hitamkan patih Gajah Mada, atas peristiwa ini agar peperangan besar tak terjadi. Aku tahu sang Prabu tidak akan pernah tega melakukan ini, hingga atas kelapangan hati Ramadalah ia yang mengingankan semua ini menjadi salahnya. Meskipun semua orang tahu, yang harusnya dipersalahkan atas semua ini adalah aku.

***

Ramada kembali ketempat terakhir kali ia bertemu dengan Pitaloka. Dalam nafas terakhirnya Pitaloka masih sempat tersenyum dan mengucapkan beberapa hal yang takkan pernah ia lupakan. Nafas Pitaloka tersenggal-senggal, tubuhnya yang ringkih tak kuat lagi berlari. Tiba-tiba saja bayangan hitam menyeruak dibalik semak. Bukan lagi ketakutan yang ia rasakan melihat sosok itu, senyumnya seketika merekah dari balik kedua lesung pipinya.

“Kanda, sekali lagi. Kau menemukanku dalam gelap. Sama seperti saat kita kecil dulu, kau selalu menemukanku dalam gelap yang paling kau benci sekalipun”. Bibir itu tak hentinya merekahkan senyum.

“Dinda, apa yang terjadi. Maafkanlah aku yang tidak bisa melindungimu. Aku benar-benar bodoh membiarkan semua ini terjadi. Marilah Dinda, aku antarkan kau kembali pada Prabu. Beliau telah lama menunggumu”.

“Apa yang kamu pikirkan Kanda, apa yang sebenarnya ada dalam benakmu. Aku benar-benar tidak mengerti. Tidak senangkah kamu bertemu denganku kembali? Tidak maukah kamu membwaku lari dari semua keadaan yang ku benci ini”. Mata lentik itu deras mengeluarkan air mata. Aku yakin betul bahwa sesungguhnya Ramada ingin merengkuhnya dan menghaspus air mata itu, namun apa daya ia mempunyai aku.

“Tidak Dinda, itu tidak benar. Ketika kau ke Majapahit ini artinya kau milik Rajaku. Aku sangat mencintai Rajaku dan Negeriku Dinda, aku telah bersama dengan Palapa disini. Aku tak bisa meninggalkannya”.

“Jadi itu pilihanmu. Ingatlah Kanda, jika dikehidupan ini kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Maka aku tidak ingin bersama orang lain yang tidak aku cintai. Aku akan menunggumu dikehidupan lain. Menunggumu dengan cinta yang sama sejak dulu hingga waktu itu tiba”. Tangan mungil itu merengkuh Ramada dan menarik keris yang ada di balik punggungnya.

“Apa yang kau lakukan, Dinda?”.

Tak kuasa lagi rasanya Ramada berdiri kaku dengan darah yang berlumur di dadanya. Darah segar itu mengalir dari ulu hati Pitaloka. Kakiknya lemas melihat wajah Pitaloka yang memucat dan sekujur tubuhnya telah menjadi biru dan dingin.

Kini di bawah pohon rindang yang tiga hari lalu menjadi saksi bisu kesetiaan cinta Pitaloka ia berdiri di bawahnya.

“Aku muak denganmu, ini semua karenamu. Ini semua karena ambisiku dengan menciptakanmu. Aku benar-benar membencimu. Aku menciptakanmu untuk kekasihku. Aku menciptakanmu untuk orang-orang yang kucintai agar bisa kulindungi. Aku menciptakanmu agar bisa mempersatukan nusantara ini! Aku melahirkanmu dari segala ambisiku terhadap rasa cintaku! Kini, kini apa yang kau lakukan, karena ada dirimu, karenamu aku harus mempertahankanmu dan aku harus kehilangan orang yang paling aku cintai di muka bumi ini! Aku muak! Kini takkan pernah bisa lagi aku melindungi orang-orang yang kucinta. Ini semua karenamu. Moksalah kau dari hidupku!”.

Inilah akhirnya, ia memoksakan diriku. Sebuah sumpah yang ia buat.

2 comments

  1. apa itu Moksa?

    1. Tingkatan hidup yang lepas dari keduniawiaan… atau bisa diartikan “menghilang tanpa jejak”😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: