Dandelion

Image

Kedua bola mata sayu itu memelas dan tersenyum simpul padaku, seolah-olah ia menang. Aku tak bisa begitu saja menerima permintaannya, sebisa mungkin rasa yang bergejolak di hati ini kutahan. Sekali lagi kutegaskan pada hatiku, ini hanya sebuah mimpi yang akan sirna ketika aku terbangun nanti. Kupicingkan pandanganku pada sosok dihadapanku ini, aku menggeleng sekeras yang aku bisa berusaha menampik takdir. Kukatakan padanya lewat lirihnya jerit hatiku “Kau memang pemenang sejak awal, namun kau terlalu naif untuk memberikan pecundang sepertiku sebuah mimpi yang tak pernah kubayangkan sebelumnya”. Namun, apa yang ia lakukan, dengan tangan yang dingin itu ia berusaha mengusap air mata yang tak kusadari jatuh tak tertahan lagi.

“Intan, kau ingat kisah tentang dua anak itik yang ingin terbang keliling dunia, dan menganggap diri mereka adalah seekor burung?” , ujar orang itu masih dengan senyum yang mengembang ditengah rasa laranya.

“Ingat, berkali-kali kau ceritakan itu padaku. Sudah kukatakan aku tak pernah menyukai cerita itu, namun kau selalu menceritakannya berkali-kali. Lihatlah mukamu telah pucat sebaiknya kau pakai make up yang tebal. Aku sebal melihat wajahmu yang pucat”.

Dia hanya tersenyum, dan menggenggam tanganku semakin erat. Aku benci hal ini, sungguh aku tak ingin ada tangis di sini, aku ingin menjadi Intan yang bandel yang selama ini ia kenal.

“Kakak sangat mencintaimu, jika saja Tuhan mengizinkan kakak untuk lebih lama tinggal, akan kubagi semua yang kakak punya untukmu sejak awal”, bibirnya bergetar mengucapkan itu. Namun, aku tahu ia amat tulus mengucapkannya.

“Apa yang kau bicarakan, aku tak mau mendengarnya lagi.”

Ku tepiskan tangannya hingga ia tersentak kaget, rasanya satu detik saja aku telat untuk berlari dan meninggalkan ruangan ini, aku jamin ruangan ini akan menjadi lautan air mata. Aku tak ingin itu, benar-benar tak ingin. Mengertilah, mimpiku memang tak setinggi mimpi kakakku, namun aku selalu punya mimpi akan selalu manjaga mimpi kakakku agar ia tetap bahagia. Namun, kini, semua seolah menjadi bumerang bagiku. Segalanya tak lagi mudah.

***

Kini percuma ku bersikap tegar pada sosok yang selama 17 tahun lamanya selalu mengusap air mataku ketika lagi-lagi aku terlibat dalam perkelahian dengan temanku dan dihukum oleh guru BP.  Sosok yang 4 tahun setelahnya selalu berbinar ketika mendengar cerita-ceritaku di kampus, cerita dimana segala macam kegiatan pernah kuikuti, hingga cerita tentang seorang laki-laki yang berhasil mencuri semua perhatianku. Meskipun tak pernah kusebutkan namanya, namun kakakku selalu antusias terhadap segala jenis ceritaku. Kini, aku tak ingin melarikan diri darinya, aku ingin mengatakan kalau aku sangat mencintainya. Aku ingin mengatakan kalau aku menyukai cerita dua ekor itik itu, aku ingin mangatakan kalau aku menyukai dandelion ini.

Dandelion, entah kenapa orang itu selalu menyukai bunga liar itu.

“Kenapa kakak begitu menyukai bunga liar ini”, maka jawabannya akan tetap sama

“Karena bunga ini selalu mengingatkan kakak padamu, kamu yang apa adanya, kamu yang sederhana, kamu yang satu namun selalu membuat orang-orang disekitarmu merasa utuh. Kamu yang selalu menciptakan harapan baru, kamu yang selalu punya mimpi untuk membuat hidup baru. Kamu yang meski terhempas dan jatuh berkali-kali namun tak pernah berhenti bermimpi. “

Kuseka air mataku yang kini mulai deras membajir.

“Hash, kenapa aku kembali cengeng. Bukankah orang itu akan marah ketika aku diam-diam menangis sendiri. “

Kini, aku ingin mengumpulkan dandelion ini untuknya. Aku ingin menangis dipeluknya.

***

Kupadang langit yang sama seperti yang orang itu sukai. Ia adalah wanita paling modis, paling artistik yang pernah kutemui. Ia seorang wanita yang sabar dan tak pernah sedikitpun marah padaku. Ia Ibu sekaligus ayah bagiku. Jika dikehidupan lainnya aku tiba-tiba disuruh memilih untuk bertemu kembali kedua orang tua yang telah meninggalkanku atau sekali lagi hidup dengan kakakku, maka aku tak pernah ingin bertemu kedua orang tuaku. Karena bagiku, kak Ratih adalah duniaku.

Ia seringkali menceritakan kisah dua ekor itik yang tak pernah sadar kalau mereka adalah unggas dan bukan burung. Keduanya selalu bermimpi untuk keliling dunia dengan sayapnya. Saat kuceritakan padanya sebuah kisah ketika aku mencintai seorang yang tak mungkin aku dapatkan, ia kembali mengingatkanku pada cerita itu. Ia berkata bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Segalanya mungkin saja terjadi ketika Tuhan telah menentukan. Seperti kedua itik kecil itu yang akhirnya bisa keliling dunia, karena mereka tak sengaja menaiki pesawat terbang. Meskipun mereka tak punya sayap, namun pada akhirnya mereka dapat terbang di angkasa.

Kak Ratih adalah designer terbaikku, ia selalu memaksaku memakai baju-baju yang senada dan match.  Sudah kubilangkan kalau dia artistik, bahkan tidak hanya itu dia filosof teralay yang pernah kutemui. Ia selalu menganggapku bunga dandelion dengan sejuta argumen ia meyakinkaku kalau aku itu istimewa dan semua orang tak kan bisa sepertiku.

“Oh, kini aku merindukanmu. Aku semakin semangat mengumpulkan dandelion ini untukmu”.

***

Langit tak pernah bersahabat denganku disaat-saat penting seperti ini. Meskipun aku sangat menyukai hujan, namun kak Ratih tidak. Kini, aku terjebak dalam guyuran hujan yang hebat turun dengan derasnya. Berkali-kali aku berjingkrak mengusir rasa dingin yang mulai menyerang tulangku. Aku lupa tak membaca jaket kesukaanku. Tadi kak Ratih memaksa ingin memakai jaket kumal yang tak kucuci berminggu-minggu itu. Aku tersenyum membayangkan kak Ratih yang benci bau tidak enak itu bersin-bersin sendiri. Pasti dia akan mengomel dan akan menjitak kepalaku lembut ketika aku bertemu dengannya nanti.

Sebelumnya, aku tak pernah gila seperti kak Ratih yang berbicara pada hujan pada suatu kali. Ia berkata padaku ketika ia sedang tak ingin melihat hujan maka ia akan berbicara dan memohon pada hujan untuk berhenti. Kini akan kucoba salah satu ide gilanya itu.

“Tuhan, izinkanlah aku meminta untukmu menghentikan hujan yang nakal ini. Aku ingin bertemu dengan kak Ratih. Untuk kau hujan, kumohon pergilah sejenak, biarkan aku bertemu dengan kakakku”.

Lagi-lagi aku bersikap bodoh ketika mengingat satu-satunya saudara yang kupunya di dunia ini. Namun, ternyata kak Ratih benar, doaku terkabul. Hujan deras itu kini berhenti berganti panas yang memunculkan pelangi. Mataku berbinar senang ketika kulangkahkan kakiku pergi, aku terhenti oleh seseorang yang ku kenal.

“Kak Ratih, kenapa bisa kau di sini. Apa yang dilakukan kak Andy? Apakah dia tak menjagamu” .

“Tidak, aku hanya mengkhawatirkanmu sayang”

“Kakak, sakitmu ini bukan hal yang main-main. Kau harus istirahat total pasca operasi. Ingat kata dokter, kakak tidak boleh capek. “

“Aku ingin dandelion, bisakah kau mengambilkannya untukku”

Seketika aku berlari tanpa pikir panjang setelah mengangguk mengiayakan. Aku lupa, kalau ada karangan dandelion di dalam tas ku. Sekembaliku dari taman rumah sakit, aku tak menemui kakakku di sana. Segera kuberlari masuk secepat yang aku bisa.

***

“Macil, Macil, Papa nangis, Kak Dhimas juga. Itu di sana, ayo ikut Nimas”.

Gadis kecil cantik ini menyeret tanganku yang menggenggam erat dandelion. Kurasakan tubuhku menggigil kaku, bayangan-bayangan buruk seketika terlintas dalam benakku. Dia tidak boleh meinggal sebelum aku membawakan apa yang ia minta.

“Tidak, orang itu tak boleh meninggal sebelum aku mengatakan aku mengatakan aku menyukai dandelionnya, aku menyukai cerita itiknya.”

Perlahan ku langkahkan kakiku, suara gemericik hujan masih terdengar di luar sana. Mataku menatap lurus pada tubuh yang terbaring pucat di sana. Wajahnya seolah penuh senyum kemenangan. Ku lihat sekitar dengan seksama, Kak Andi bersimpuh di bawah tempat tidur itu memeluk Dhimas yang juga menangis tanpa ia tahu penyebabnya. Kini gadis kecil disampingku ini menyerertku mendekat pada tubuh orang itu, kak Ratih.

“Macil, mama tidurnya pulas ya?”.

Seketika aku menjerit dan berlari memeluk tubuh yang kaku itu. Ku cium keningnya berkali-kali. Ku katakan padanya apa yang tadi belum sempat aku katakan.

“Aku mencintaimu, aku menyukai cerita itik itu, aku menyukai dandelion”.

Kini, tak bisa lagi kudengar ia berkata “Iya, kakak tahu”, seperti selama ini yang ia ujarkan ketika aku berbohong padanya. Ia seolah tahu semuanya tentangku. Tiba-tiba aku tersentak hebat “Mungkinkah dia juga tahu kalau aku mencintai kak Andy”. Bak pukulan godam, kini semakin aku bersimpuh mencium kakinya.

“Maafkan, aku yang tak tahu diri ini kak. Ibu, Ibu, kau selalu menjadi Ibu terbaik, Ayah terhebat, kakak tersuper yang pernah kumiliki. “

Awan seolah tahu apa yang kurasakan, ia menurunkan petir dan hujan sederas mungkin, seolah tahu bahwa aku tak ingin tangisku didengar oleh perempuan yang kucintai ini. Nimas memelukku erat dan mengusap air mataku.

***

“Kak, andai saja kakak tahu, kakak adalah dandelion terindah bagiku. Kakak memberikan kehidupan baru, mimpi baru, dan harapan baru bagi yang lain. Seperti dandelion ini, yang meskipun ia layu dan mati namun ia selalu memberikan kehidupan baru bagi anak-anaknya melalui benih-benihnya yang ia terbangkan bersama angin. “

Aku tersenyum memandang langit biru yang selalu kak Ratih sukai.

“Macil, Papa dan kak Dhimas main air, Nimas nggak suka. “ , gadis kecil itu berbisik lirih padaku.

Aku tersenyum dan memberinya satu ide cemerlang. Kuulurkan selang air, dan ku ajarkan padanya bagaimana perang air menjadi permainan terseru. Kak Andi tersenyum manis padaku, kini laki-laki yang telah halal untukku itu mengerlingkan matanya nakal seolah mengatakan “Aku tidak mungkin kalah dari kalian”.

“Untuk kak Ratih, Kak, aku sangat mencintaimu. Kamu Dandelion terindahku. Aku ingin bertanya, apakah sejak awal kau merencanakan ini. Membisakan anak-anakmu memanggilku “macil atau mama kecil”? ku akui kau aktris terhebat yang pernah ku kenal, aku tidak pernah menyukai aktris Indonesia seperti yang kau tahu, karena akting mereka standar, namun entah kenapa aku begitu menyukai aktingmu dan bahkan skenariomu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: