Catatan untuk Hawa

Seseorang pernah berkata padaku dengan yakinnya, jika kau mengharapakan keadilan di dunia ini kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya, tapi kau akan mendapatkannya kelak di akhirat. Awalnya aku tidak pernah percaya kata-kata itu, karena aku adalah seorang hakim, aku percaya bahwa keadilan itu selalu ada. Ku katakan padanya “aku masih percaya bahwa keadilan itu ada, dan karena aku ada, maka keadi…lan itu ada. Ku katakan padanya bahwa setiap perbuatan akan mereka (para penjahat) terima dengan seadil-adilnya sesuai perbuatannya. Namun, sekali lagi dia menyela omonganku, “tidak pernah ada keadilan yang lebih baik, dari keadilan di akhirat”.
***
Namaku Sonya, aku seorang hakim. Entah kenapa hari ini langit ibu kota yang cerah tiba-tiba berubah jadi mendung. Padahal aku harus segera sampai di kantor. Biasanya setiap pagi, aku selalu menyempatkan diri untuk mengecek mobilku, mulai mesinnya, bensinnya, hingga kebersihannya. Bukan seperti yang kalian bayangkan, aku bukan perempuan montir yang tahu segalanya tentang mesin, aku hanya perlu tahu seadanya saja, jadi jika ada kerusakan pada mobilnya, minimal aku tahu penyebabnya. memang benar, semua orang mangatakan bahwa aku perempuan perfectionis.setiap pekerjaan yang kukerjakan harus sesuai dengan targetku. Karena rasa kecewaku yang besar pada seorang pria yang tega menghianatiku dengan sahabatku, kini aku tidak pernah percaya lagi dengan mahluk Tuhan yang satu itu. Aku merasa, aku sanggup melakukan semuanya sendiri, aku tidak butuh pria yang hanya akan menyakiti hatiku. Beginilah aku berteman dengan kesibukanku dan kesendirianku.
***
Pagi ini aku merasa aneh, aku telat bangun karena semalam aku lembur dengan kasus yang harusnya aku putuskan hari ini, hingga tak sempat untuk sarapan dan mengecek segala peralatan yang selalu ku bawa. cuaca yang mendung, membawa hawa yang tidak enak menurutku. Mataku terasa berat saat menyetir, tak sadar aku melaju dengan kecepatan yang tak terkendali. Awalnya aku merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan mobilku, dan ternyata benar ditengah jalan bannya pecah. Ku maki-maki mobil kesayanganku ini sambil mengomel aku menelpon sahabatku
Luky, kebetulan dia punya bengkel, aku memintanya menderek mobilku kebengkelnya. Setelah menunggunya beberapa saat, kutitipkan kunci mobil padanya. Yah, mahluk cowok satu ini berbeda, aku sayang padanya, karena dia satu-satunya sahabatku. Maklum saja, orang perfectionis sepertiku susah untuk mendapatkan seorang teman sejati, ada saja kekurangan mereka dimataku. Aku akui kesalahan memang terletak pada kepribadianku.
***
Dengan mengomel aku memasuki sebuah bus yang bahkan tak kulihat detailnya. Semua orang sibuk menelponku secara bergantian hari ini, mulai mamaku, papaku (mama dan papaku telah cerai sejak aku kecil), kerabat, bahkan sepupuku yang katanya hanya say hello saja. Aku heran kenapa dengan semua orang ini, apa mungkin mereka sedang berkumpul di Amsterdam seperti yang telah direncanakan sejak satu bulan yang lalu, entahlah aku tidak tahu. Mulai sebelum aku masuk bus hingga di dalamnya, aku sibuk menerima telepon, hingga tak kuperhatikan keadaan yang ada.
Sesekali kurasakan keadaan semakin sepi. mungkin saja, segerombolan anak-anak sekolah yang sedari tadi berada tepat di depanku telah turun di depan sekolahnya kurasa. Akhirnya teleponku berhenti berdering. Sempat kuhela nafas panjang dan membatin “ada apa dengan semua orang-orang ini, bahkan di saat ulang tahunku minggu lalu, mereka sama sekali tidak ingat. Kenapa hari ini bersamaan menghubungiku, aneh”.
***
Aku menepuk jidatku yang tertutup oleh poni yang sedikit berantakan. Sepertinya, hari ini aku salah kostum. “Tapi kan aku juga tidak menduga kalau bakal naik angkutan umum”, kataku membela diriku’sendiri. aku memakai rok diatas lutut yang cukup pendek, serta blus yang senada,yang melapisi tank top yang aku kenakan. aku baru sadar sekarang, kenapa sedari tadi saat aku sedang sibuk menerima telepon banyak pihak yang tengah berbisik-bisik kearahku. Oh ya, aku punya suatu kebiasaan yang sejak kecil aku lakukan dimanapun dan dalam keadaan apapun. Aku selalu mencatat setiap perasaan dan kejadian yang aku alami. seperti saatini, dengan ipadku aku mencatat setiap perasaan bad mood yang aku rasakan.Tanpa sadar, seseorang duduk tepat disampingku. seorang laki-laki tampan yang berpakaian rapi. dia tersenyum kearahku, sedang aku yang sedag kesal hanya melengos saja. harap diingat “aku benci laki-laki sok akrab sepertinya.”pasti kamu sama saja dengan laki-laki lainnya, palayboy nggak setia”, judge ku dalam hati. kuarahkan pandanganku keluar jendela melihat pemandangan kota yang padat. Namun, sepertinya ada yang salah, “oh no, ini bukan jalan menuju kantorku. aku pasti salah ambil jurusan bus ini. mati aku”. sedikit panik aku, ketika melihat keadaan sekelilingku. Penumpungnya ternyata telah sepi, kuhitung hanya ada sekitar lima orang di dalamnya. jalan-jalan yang kulalui juga nampak lenggang dan sepi. Aku mengetuk kaca jendela berkali-kali, berharap pak sopir mengerti apa yang aku maksudkan. Namun, ternyata dia tak memperdulikannya.
Aku panik, aku sedikit memaki laki-laki disebelahku untuk pindah dari sisiku. Risih sekali rasanya, dia menatapku bagaikan srigala yang melihat mangsanya. Matanya menelitik pada setiap lekuktubuhku. Aku benci, pria ini. aku beranjak berdiri dan dengan bahasa isyarat aku mengkode agar laki-laki ini sedikit mundur karena aku ingin lewat.

Tak kusangka, dia sama sekali tak menghiraukan kodeku. Aku marah dan memakinya dengan sumpah serapah, hingga diluar dugaanku, dia lalu menyeret dan menghempaskanku ke bangku semula. Aku melawan dengan gerakan bela diri yang aku punya, namun aku takkuasa. Tenaganya lebih besar dariku. Dengan sangat panik aku berteriak minta tolong, namun tak seorangpun mendengarku. seakan semua orang tak perduli dengan jeritanku. Aku meraung, menangis, dalam tindakan keji yang laki-laki itu lakukan padaku, kupandang dia dengan penuh dendam dan kebencian, ketika aku mendapat cela kabur, seseorang lainnya menarikku, dan melakukan hal yang sama terhadapku.
Tangisku semakin menjadi merasakan kekejian yang mereka lakukan. Tidak hanya laki-laki brengsek itu, namun ada lima orang lagi juga melecehkanku. Satu persatu aku ingat wajah-wajah iblis itu.

Seakan penderitaanku tidak sampai disitu, setelah merenggut harga diriku, mereka menyiksaku dengan keji dan lalu membuangku dalam keadaan yang memilukan, tanpa secuil pun kain memabalutku ditengah jalan. Aku merangkak, mengambil baju dan tasku yang mereka buang agak jauh. Seakan tidak ada yang perduli denganku, mobil-mobil yang berlalu lalang enggan untuk bersusah-susah menolongku, dan hanya menatapku bagai orang gila begitu saja tanpa berniat untuk menutupkan sehelai kain padaku.
dengan berlumur darah, aku tak kuasa lagi untuk beranjak pergi. “Tuhan, kenapa takdir seperti yang kau berikan padaku”.
***
Badanku terasa ringan, berdiri di samping tubuh seseorang yang aku kenal. kupandang wajahnya lekat-lekat, penuh lebam. “Tidak mungkin, ini tidak mungkin aku. Tidak lama kemudian ruhku kembali dalam jasadku.
Saat kubuka mataku, semua orang yang aku kenal sedang meratap dan menangis di sampingku. Bahkan dalam ketidaksadaranku tempo hari, aku sempat mendengar mamaku beberapa kali histeris dan lalu jatuh pingsan.
Saat itu, aku ingin terbangun namun aku tak kuasa. Kurasa aku melupakan sesuatu, tapi apa itu. Oh ya aku ingat, kenapa aku berada disini. Saat kutanya,semua orang hanya terdiam, lalu mamaku kembali jatuh pingsan tak kuasa melihatku. Kurasakan semua organku rasanya sakit. Ketika kuambil ipadku, aku mengusir lelahku dengan menshare berita di internet. Tak kusangka,aku menemukan sebuah berita yang hampir membuatku berhenti bernafas melihat berita tentangku. Memoriku melayang pada kejadian itu. Aku tidak bisa menerima setiap kenyataan yang ada. Aku histeris, aku tiada hentinya menangis, tiada hentinya menyumpah serapah laki-laki
brengsek itu. Hingga aku kembali tak sadarkan diri.
***
Setiap kali aku terbangun, aku mengingat kejadian itu. Ini sudah kedua kalinya aku terbangun dari koma ku. Perasaan sesak yang aku rasakan, perasaan sakit yang aku derita ini, lebih sakit daripada sekedar rasa sakit yang menggores tubuhku. Perasaanku sangat sakit, mengingat kebiadaban para manusia yang memperlakukanku lebih buruk dari seekor binatang. Tak kuasa aku menahan semua rasa malu dan hina ini.
Hari ini aku mencoba untuk bunuh diri, aku melepaskan semua alat bantu yang ada di tubuhku. Sempat merasakan sesak yang begitu hebat. Aku tak perduli, daripada harus menangung semua rasa yang menyakitkan ini.
Mereka, tidak hanya merusak kesucianku, namun merusak tubuhku, mentalku, dan segalanya yang membuatku tak punya kuasa bertahan untuk hidup. Dalam rasa sekaratku ini, aku menulis sesuatu pada mamaku dan orang-orang yang aku sayang.  “aku ingin memaafkan orang-orang yang telah membuatku seperti ini, tapi aku tak bisa”. Namun, ternyata keluargaku tidak mau tinggal diam, mereka mulai mencari setiap pelaku yang membuatku bagai orang mati ini. Ternyata usaha mereka sia-sia, sayup-sayup aku mendengar dari keadaan komaku, perbincangan para sepupuku yang mengatakan bahwa salah satu yang melakukan tindakan keji terhadapku ini adalah seorang anak pejabat tinggi. Hingga polisi seakan enggan untuk mengungkapnya. Keadilan yang selama ini aku junjung tinggi dalam prinsipku musnah sudah. Semua retorikaku yang mengatakan bahwa “di dunia ini selalu ada keadilan yang mutlak” seakan sebuah pisau belati yang menyayat hatiku dengan dalamnya. Tak terasa aku meneteskan air mata dalam keadaan komaku. Luky sahabatku yang tahu akan reaksiku menangis dengan mendekap tanganku “percayalah Sona, hukum itu ada, keadilan itu akan datang padamu”. jika aku bisa bangun ingin rasanya aku menyeret penjahat-penjahat itu kedalam pengadilan, dan memvonis
mereka hukuman mati kalau perlu, karena telah melakukan hal yang lebih hina dari perbuatan hewan. Aku tidak ingin melihat kaumku, para wanita merasakan hal yang sama sepertiku. Penjahat seperti harusnya diberantas dari bumi ini. Namun aku,  sadar, kalau ini semua bukan sepenuhnya salah mereka, namun juga salahku, yang membiarkan mereka mengumbar nafsu hewaninya.
***
Aku terbangun lagi dalam komaku yang ketiga kalinya, tangisku pecah lagi. Air mata tiada hentinya menetes, membahasahi setiap ruang lukaku. Seperti biasa kutuliskan semua yang kurasakan dalam ipadku.
“Ya Allah, tolong bicaralah melalui hatiku.Ya Allah, aku adalah mahlukmu yang hina. Ya, Allah aku memang senantiasa membangkang atas perintahMu. Ya Allah, aku memang mahlukmu yang selalu mengabaikan seruanMu.
mungkinkah ini teguran untukku? mungkinkah ini peringatan untukku terhadap segala hal yang aku lakukan selama ini? Allah masihkah, engaku sudi mengampuni hambaMu yang dina ini? Masihkah engkau mencintaiku?
Allah, inikah bukti cintamu padaku? Ku mohon, beri aku kekuatan? Kumohon beri aku keadilan yang selalu aku junjung tinngi? Jika tidak di dunia ini, biarkanlah aku mendapatkannya di akhirat kelak? Allah, maafkanlah
hambaMu ini, sudah tidak sanggup lagi rasanya jika berada dalam dunia fana ini lebih lama lagi? Tidakkah kau mencintai mahlukmu, maka biarkanlah hamba berada disisimu. Ampunkanlah dosa-dosa hamba ya Rabb. Aku tidak mau
menyalahkan para manusia yang bertingkah hewan itu, aku ingin ikhlas dengan RidhoMu ya Rabb. ”
***
Subuh itu, aku benar-benat terbangun dari koma. Aku meminta papaku membopongku untuk mengambil wudlu. Sungguh aku bukan wanita manja. Hanya saja tubuhku sudah tak bisa lagi digerakkan sebagaimana mestinya. Aku meminta papa untuk memimpin sholat subuh kali ini. biasanya Riga kakakku, namun kulihat dia tak lagi punya kuasa untuk melihatku. Matanya tak karu-karuan sembab, aku tersenyum lembut padanya dan mengatakan lewat hati kami “aku baik-baik saja kak, jangan kawatirkan aku”. Sedang mamaku sudah lebih tegar sekarang, dia berusaha menguatkanku. Setelah sholat subuh selesai, mama memakaikanku kerudung warna favoritku dan memberikan kaca padaku “kamu cantik nak”.

Seakan sebuah pukulan berat, aku kembali menitikan air mata, tak lama setelah itu aku teringat kejadian mengerikan itu, tak kuasa tubuh ini menahannya. rasanya badanku kaku, dan syarafku tak bisa lagi bergerak sebagaimana
mestinya. Namun, sebelumnya sempat aku tuliskan catatan ini, kutumpahkan setiap yang aku rasakan. sekali lagi tubuhku rasanya menggigil, aku merasatidak kuat lagi. mataku telah merasa berat, aku berharap masih bisa melihat wajah papa, mama, Luky, dan kak Riga dalam mimpi ditidur panjangku kelak. Mungkin ini akan jadi tulisan terakhirku “Duhai Riri, sahabatku yang kini mungkin telah tenang di alam sana, benar apa katamu, ternyata
keadilan di dunia hanya semu, keadilan yang hanya dibuat oleh manusia, dan kau benar seadil-adilnya hukuman adalah yang diberikan oleh Allah kelak di akhirat nanti. Aku percaya orang-orang yang telah membuang harapanku
tentang memperjuangkan harkat, martabat, dan rasa adil akan mendapatkan hukuman yang layak dan seadil-adilnya kelak dikehidupan yang kekal. Dunia ini terasa kejam untukku Ri, dan mungkin ini teguran untuk setiap perilaku buruk yang aku lakukan dimasa lalu, Aku berharap semoga wanita-wanita lainnya tak kan pernah merasakan hal sepertiku Ri, oh ya Ri, kerudung ini membuatku sejuk”.

-Kisah ini terinspirasi dari kasus Pemerkosaan mahasiswi India yang berusia 23 tahun yang terjadi pada Minggu (16/12) malam di dalam sebuah bus yang melaju di jalanan New Delhi. Ia diperkosa oleh beberapa orang laki-laki-

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” (An-Nur:31).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: