Resensi Buku – Tradisi Orang-Orang NU

Buku ini menjelaskan dalil-dalil yang menjadi dasar tradisi orang-orang NU. Berdasarkan Al Qur’an dan sunnah Nabi SAW, tradisi NU dijelaskanlan dasan hujahnya. Diterbitkan oleh Pustaka Pesantren (LKiS), Jogjakarta, th 2006. Buku ini disusun oleh H. Munawir Abdul Fatah, alumnus pesantren al Munawir Krapyak Jogjakarta.

Diberi pengantar oleh 3 (tiga) ulama senior, buku ini tampak cukup menjanjikan. Bagi yang ingin tahu dasar-dasar amalan orang NU, maka buku ini cukup baik dan lengkap. Dalil-dalil dikemukakan dari kitab-kitab ulama salaf. Jadi tidak benar jika amalan-amalan dan tradisi yang dilakukan masyarakat tradisional nahdliyin adalah bid’ah (sesat) semata.

Isi buku ini meliputi:

Bab I : Pendahuluan

Orang yang berpegangan pada kitab kuning sebenarnya mudah ditebak, mereka adalah orang orang NU, orang orang yang ikut serta jam’iyah Nahdhatul Ulama’. Secara jujur, organisasi yang didirikan para ulama’ ini merupakan pemikiran maju pada zaman nya. Jika dilihat dari namanya yang berarti “kebangkitan para ulama” maka organisasi ini merupakan organisasi kaum cendikiawan. Sebab kata “ulama” dalam kamus Arab bias berarti “orang alim”, “orang pandai”, “cendikiawan”. Hanya saja, konotasi yang ditimpakan pada organisasi NU selama ini cenderung berarti organisasi kaum ulama, kaum tua, atau ahli agama semata. Untunglah, dalam fakta sejarahnya, NU mengajak seluruh kaum muslimin yang satu ide dan sehaluan untuk bersatu dan berkumpul kedalam NU tanpa kecuali, yang muda, yang tua, yang alim, yang awam, yang ustadz, dan yang santri, semuanya bias masuk kedalam wadah NU.

Bab II : Landasan

Ahlussunnah Wal Jama’ah, Mengikuti Sahabat Nabi, Mengikuti Mayoritas, Mengikuti Ulama, Hukum Bermadzhab, Kitab-kitab al-Muktabarah, Thariqah Muktabarah, NU dan Bid’ah, Sistem Pengambilan Keputusan.

Bab III : Masalah Ibadah

Mengucapkan Niat, Doa Iftitah, Membaca Basmalah, Bacaan Sujud, Doa Qunut, Mengangkat Tangan, Membalikkan Tangan, Tahiyat, Salam, Wiridan, Dzikir, Qadha’ Shalat, Adzan Jum’at, Qabliyah dan Ba’diyah Jum’at, Jum’atan Kurang 40, Khotbah tanpa Basmalah, Wanita Shalat Jum’at, Shalat Tarawih, Shalat Witir, Shalat Sunnah Sesudah Witir, Lailatul Qadar, Shalat Sunnah, Shalat Bulanan/Tasbih, Hari Raya, Khotbah ’Id Dua Kali, Hari Raya Jum’at,

Shalat Jama’/Qashar, Tayammum, Adzan Berangkat Haji, Ziarah Ke Makam Rasul, Haji Amanat, Kurban tidak Dibagikan, Kurban dengan Uang, Kurban untuk Modal Usaha, Takbir Shalat Jenasah, Menyalati Jenasah yang Bunuh Diri, Membaca Dzikir ketika Mengantar, Kesaksian kepada Mayat/Jenasah, Mengantar Jenasah, Adzan Jenasah, Shalat Hadiah, Shalat Ghaib, Fidyah, Ziarah Qubur, Ziarah Kubur di Bulan Ramadhan/Hari Raya, Wanita Ziarah Kubur.

Bab IV : Masalah Sosial

Memutar Tasbih, Membaca “Sayyidina”, Berjabat Tangan Sesudah Shalat, Pujian, Tarhiem, Bilal, Lailatul Ijtima, Penetapan Hari Raya/Puasa Ramadhan, Mengganti Nama Haji, Berjabat Tangan dan Merangkul, Kulit Kurban untuk Mushala, Sedekah Uang, Sedekah bagi yang Sudah Meninggal, Membaca Shalawat ketika Memandikan Jenasah, Cara Memikul dan Memasukkan ke Liang Lahat, Menabur Bunga di Atas Makam, Berjalan di kanan Kiri Nisan, Membangun dan Menghias Makam, Memperbaharui Nisan, Talqien, Peringatan 7 / 4 Hari, Haul, Tahlil, Tahlil di Makam, Istighfar untuk yang Hidup, Istighatsah/Mujahadah, Menanam Ari-ari dan Tingkeban, Memperingati Maulid Nabi, Shalawat Nariyah/Badriyah, Berzanjen Diba’an Burdahan Manaqiban, Membaca Surat Yasin, Adzan anak Lahir, Menyentuh Al-Qur’an

Tawassul, Tadarus, Bacaan”Shadaqallahul Azhim”, Menafsirkan Al-Qur’an, Memakai Surban, Berjabat Tangan Laki-Perempuan, Mencium Tangan, Mengawali Pekerjaan, Mantera, Mengangkat Pemimpin, Wali Nikah Mewakilkan, Menghormat kepada Pejabat.

Namun, meski jumlah masalah yang dibahas cukup lengkap, dalil-dalil yang dipergunakan sebagai hujah sangat sedikit (walau mungkin sudah mencukupi). Referensi disebutkan dalam setiap penyebutan dalil, namun sayang hanya disebutkan nama kitabnya saja, tanpa ditulis nama ulama pengarangnya. Padahal bagi awam kadang hal ini sangat diperlukan. Saya sendiri sebagai contoh, ada yang tidak mengenal kitab yang disebutkan. Apalagi yang lebih awam lagi.

Referensi, hanya disebut nama kitabnya. Tanpa menyebut penulis, penerbit, dan dicetak di mana.Ini sungguh sangat disayangkan sekali.

Selain itu, terlalu banyak kata “NU”, sehingga terkesan membela diri.Padahal tradisi-tradisi yang disebut sudah jamak dilakukan masyarakat. Entah itu NU atau pun bukan.

One comment

  1. الإنسان محل الخطأ والنسيان

    Kita lihat dari sudut pandang yang baik saja dari buku tsb, isi, essensi, dan substansinya bagus dan meluruskan pandangan khalayak orang lain terhadap NU.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: