Cerita Jayee Si anak kubu

Seorang anak laki-laki sedang asyik menarik narik rotan di dalam hutan yang lebat.  Umurnya kira-kira dua belas tahun. Ia adalah Jayee, seorang anak dari suku kubu.

Orang-orang Kubu tinggal di dalam hutan. Mereka tidur dan mencari makan

Di dalam hutan. Salah satu  hasil hutan yang mereka cari adalah rotan. Rotan yang mereka ambil adalah rotan sego. Rotan ini banyak peminatnya.

Tampaknya Jayee telah tarampil mengambil rotan. Setumpuk rotan sego sebesar kelingking ada di sebelahnya.

Jayee tidak sendirian. Jayee mencari rotan bersama kedua orang tuanya dan kedua adiknya. Adiknya berenama Rebiyah dan Soleh.

Ketika nsedang asyik mencari rotan, tiba-tiba terdengar suara.” Dung-dung,

dung…. Dung, dung, dung….” Itu adalah  suara banir. Suara itu tak jauh dari tempat

Jayee mencari rotan.

Ayah Jayee menyuruh Jayee membalas suara itu. Ia memberikan kampak  kepada Jayee untuk mencari pohon besar yang akarnya banir. Akar yang banir adalah

Akar dari pohon yang besar, bentuknya gepeng dan lebar. Jika akar di pukul, akan menimbulkan suara yang keras. Di dalam hutan suara itu akan menggema.

Jayee menemukan sebuah pohon manggis yang besar dan tinggi. Akarnya banir. Dengan punggung kampak, dipukulnya akar manggis itu kuat-kuat.

“Dung, dung dung…. Dung, dung, dung…”

Setelah itu ,Jayee kembali ke keluarganya .  Rotan-rotan  yang  sudah terkumpul  mereka ikat menjadi lima ikatan. Masing-masing mareka membawa satu

Ikatan. Mereka membawa rotan itu  ke arah sumber suara  banir.

Tidak lama mereka mencari sumber suara  banir. Mereka menemukan sebatang pohon  merebu. Akar pohon itu tampak bekas di pukul. Getahnya masih cair mereka yakin  suara banir tadi bersumber dari situ.

Ayah Jayee mengajak sembunyi . Dengan mengendap-endap, mereka bersembunyi. Dari tempat persembunyian, mereka masih bisa melihat rotan mereka.

Ayah Jayee memukul  banir.

“Dung, dung, dung…. Dung, dung, dung….”

Ayah Jayee mengambil tempat paling depan. Tangannya menggenggam sebatang tombak. Tombak itu siap dilontarkan.

Jayee tahu untuk apa tombak itu. Jika yang datang pencuri, ayahnya tidak segan-segan menombaknya.

Seseorang menghampiri  rotan mereka. Dia menaksir berat rotan. Dengan tersenyum, ia meninggalkan tumpukan rotan itu. Jayee dan keluarganya tidak beranjak dari tempat persembunyian mereka.

Orang tadi datang lagi. Ia meletakkan tiga helai kain dan beberapa bungkus garam di dekan rotan itu. Kemudian, orang itu pergi lagi. Tidak lama kemudian, terdenagar suara banir.

“Dung, dung, dung…. Dung, dung, dung….”

Ayah Jayee menghampiri bawaan orang tadi. Ia tampak puas. Diambilnya kain dan garam itu. Rotan ia tinggalkan. Rupanya orang tadi hendak membeli rotan mereka. Kain dan garam itu sebagai isyarat bahwa ia akan membeli rotan. Jayee dan keluarganya bahagia.

(Selesai)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: