Resensi Novel – Love In Pesantren (Shachree M. Daroini)

Judul Buku                  : Love In Pesantren

Penulis                         : Shachree M Daroini

Penerbit                       : Matapena

Tahun terbit                 : Yogyakarta, 2006

Tebal buku                  : vi + 276 hlm.

CINTA merupakan fitrah emosional yang dianugerahkan Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta, tetapi mengarahkan cinta agar tetap setia di garis kelaziman, baik perempuan ataupun laki-laki. Andai kata kita jatuh cinta, kita harus ekstra hati-hati karena seperti minum air laut, semakin diminum kita akan semakin haus.

Hanya saja, untuk mendefinisikan kata cinta, sulitnya minta ampun. Sebab, kata ini termasuk kata yang penuh dengan misteri. Ia bagaikan inspirasi kehidupan umat manusia di segala penjuru dunia. Adalah mustahil mendefinisikan kata cinta dengan pengertian tunggal dan final yang bisa diterima oleh semua kalangan.

Ibn Arabi dalam karyanya Al-Futuhat Al-Makkiyah menyatakan bahwa cinta, nafsu, atau keinginan, semuanya tidak mungkin bisa diketahui kecuali seseorang dengan tepat memenuhi atau mengalaminya secara langsung. Cinta punya makna dan hakikat terdalam. Cinta itu merupakan bagian dari rasa yang muncul dari hati yang dalam dan paling rahasia.

Melalui novel berjudul Love in Pesantren, Shachree M. Daroini mencoba mengelaborasi romantika cinta di pondok pesantren. Dengan aneka guyonan ala pondok pesantren, Shachree juga mengkritisi model cinta ala penguasa pesantren atau kaum sarungan yang masih bernuansa feodalistik. Feodalisme kaum sarungan ini terus disakralkan demi sebuah warisan leluhur yang dipatok dengan harga mati, tidak boleh diganggu gugat.

Cinta kaum feodalis adalah cinta yang gila kehormatan, status sosial, dan tentu saja kekayaan. Kita bisa melihatnya dalam novel ini, ketika cinta Komar (santri biasa) terhadap Siti (keturunan pesantren) terkendala oleh garis pemisah antara santri dan ningnya. Begitulah, dalam tradisi pesantren, seorang ning wajib hukumnya menikah dengan seorang gus. Implikasinya, tidak sedikit para gus dan ning yang merasakan adanya ketidakcocokan dengan pasangan hidup mereka. Sebab, cinta mereka bukanlah cinta yang lahir dan tumbuh dari keinginan hati terdalam mereka sendiri. Cinta mereka adalah “cinta paketan” orang tua.

Otoritas mutlak dalam segala cinta di lingkungan (keluarga) pesantren ada di tangan penguasanya, yaitu kiai. Segala hal yang berhubungan dengan cinta dan urusan-urusan lainnya, harus direstui terlebih dahulu oleh sang kiai. Kalau kiainya tidak setuju, bisa dipastikan tidak akan sukses. Di sini terjadi pemaksaan berlebihan dari kiai terhadap santri, anak-anaknya bahkan juga atas istrinya sendiri. Kemerdekaan manusia akhirnya dirampas secara paksa.

Yang menarik dalam novel ini, di samping dielaborasi perihal cinta kaum sarungan yang sangat bernuansa feodalistik itu, masih ada dua model cinta lainnya, yaitu cinta eksploitatif dan cinta produktif.

Merujuk pada Erich Fromm dalam buku To Have or To Be, penulis menjelaskan bahwa cinta eksploitatif adalah cinta yang bersikeras untuk memiliki, bukan menjadi. Cinta eksploitatif adalah model cinta yang memaksa orang di luar kita untuk tunduk sepenuhnya pada kehendak pribadi kita sendiri. Ini tentu saja hanya akan melahirkan penguasaan atau hegemoni. Padahal cinta harus membebaskan, dan itu hanya terdapat dalam modus ‘menjadi’.

Dalam bukunya yang lain, The Art of Loving, Fromm menjelaskan secara cerdas bahwa cinta dengan modus ‘menjadi’ tersebut adalah model cinta produktif. Esensi cinta produktif adalah adanya perlindungan dan tanggung jawab. Tidak ada yang namanya penguasaan antara satu pihak ke pihak lainnya.

Perlindungan dan pertanggungjawaban itu menunjukkan, cinta ialah sebuah aktivitas membebaskan, bukan sebuah nafsu, yang olehnya orang dikuasai. Cinta produktif juga bukan sebuah pengaruh (affect) yang menjadikan orang terpengaruh bahkan tergantung olehnya. Dalam bahasa Ibnu Arabi, cinta produktif tersebut merupakan bentuk pencarian dan penerimaan dari setiap individu tanpa saling merugikan. Selamat membaca! Syaiful Bari, Pemimpin Redaksi Majalah Humaniush, Yogyakarta.

Oleh: M. Afifuddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: