Rumah Gading yang Tak Retak (Cerpen)

Langit diatas SMAU Angkasa Gading sangat terik, wajah coklat kehitaman Pak Sastro semakin lesu saat keluar membawa baki air minum dari ruang Kepala Sekolah. “Lagi-lagi perombakan, mau jadi kota metropolitan apa, dasar orang-orang kaya seenaknya!” mengeluh pelan, wajah kekecewaan yang sangat, terpancar dari guratan usia di jidatnya. Kalau saja dia sebagai kepala sekolahnya…ah..! pikirnya. Tidak ada semangat seperti biasanya ketika mendengar kata ‘perluasan’, apalagi kalau bukan perluasan lapangan landas untuk latihan terbang anak-anak Sekolah Menengah Angkatan Udara Angkasa. Artinya, akan banyak yang dirombak termasuk hutan Bunder yang lokasinya hanya 300 meter dari lapangan landasan udara sekolah itu.

Memang tak ada yang salah dengan perbaikan, tapi perombakan hutan belum tentu akan memperbaiki keadaan. Belum lagi sekolah akan bekerjasama dengan dinas pariwisata untuk membuat resort yang lokasinya dekat jembatan Bunder, 400 meter dari sekolah. Otomatis wilayah hutan yang sudah semakin sempit akan dipersempit lagi dengan didirikannya bangunan baru untuk peristirahatan sementara itu. Pintar. Pemerintah semakin pintar mengambil keuntungan dari alam. Pak Sastro, juru kunci hutan yang juga tukang kebun SMAU Angkasa itu tidak tahu harus berbuat apa. Besok pagi, alamat kerusakan dimulai, perombakan dan pembangunan resort. “Pak, kok lesu, kenapa?” Gading  melihat wajah bapaknya tak enak. Pak sastro menggeleng pelan, “nanti saja di rumah bapak cerita, itu…sepertinya ada yang mencarimu, tinggalkan saja ini.” Gading mengangguk, meninggalkan kantin yang penuh siswa itu. “Ding, kamu dicari anak Elang Putih, ada perlu katanya.” Kata Setyo ngos-ngosan. “Mana?”

“Di Aula.” Gading bergegas menuju Aula sekolah.

Disana, ketua Elang Putih, team teratas SMAU Angkasa menunggu Gading bersama beberapa rekannya. “Gading, maaf kami butuh bantuan kamu.” Ketuanya langsung menemui Gading. “Ya, ada apa Mas?”

“Kami akan mengadakan PERSAMI minggu ini, mungkin kami akan meninjau tempat dulu di Hutan Wanagama, kamu bisa jadi penunjuk jalan?”

“Oh, Insya Allah bisa, mungkin bisa ikut kemahnya juga, kapan itu Mas?”

“Nanti sore, atau kamu bisa carikan tempat yang lebih bagus Ding?” pinta Hedi, sang ketua. “Ehmm, memangnya kegiatannya apa saja Mas Hedi? Saya pikir kalau tidak ada latihan penerbangan, kemah di Jati Jajar lebih menarik.”

“Ada latihan Ding, penerbangan aeromodeling. Kita barusan merakit pesawat baru ukuran sedang, latihan diatas air ketika keadaan darurat,” Sambung Ipung, wakil team Elang menjelaskan. Gading manggut-manggut, “nanti sore bisa ke rumah saya dulu Mas, sekalian saya tanya-tanya ke bapak tentang lokasi yang lebih tepat.”

“Ya, tentu. Selesai rapat nanti kami kesana Ding.”

“Baik, ingat, jangan sampai kesasar, dari kandang rusa masih jalan seratus meter lagi.” Gading, mengingatkan. Semuanya mengangguk mengerti.

Tujuh orang dari tim Elang bergegas mencari rumah pak Sastro, rumah yang sedikit masuk ke dalam hutan Bunder, Kelurahan Gading di daerah Gunungkidul, tepatnya bagian bukit dari propinsi DIY. “Pung, masih jauh nggak sih?” tanya Sapto.

“Hehe…aku juga baru pertama kali ke sini, heran, Pak Sastro milih rumah kok disini.”

Setelah memasuki hutan kira-kira sepuluh menit, mereka tak juga melihat tanda-tanda ada rumah di daerah itu. “Pak Sastroo..Gadingg…”, Ipung teriak-teriak seperti mencari orang hilang saja. Yang lain tertawa, tapi berharap ada gunanya. Mereka menemukan kandang rusa, Sapto kegirangan, sambil mendekati kandang.

“Sap, memangnya kamu belum pernah pergi ke kebun binatang ya?” tanya Farid meledek. “Enak saja, aku kagum sama Pak Sastro, rusa-rusa ini kan jadi hewan peliharaannya to,  kamu lagi-lagi nggak ngeh, heran, bisa-bisanya masuk sekolah penerbangan.” Keduanya saling mengejar, lupa mencari rumah Gading.

Gading yang sudah menunggu-nunggu akhirnya tak sabar dan mencari ke kandang rusa, pasti mereka tersesat disana. Benar saja, ketujuh  siswa yang mengaku siswa Dirgantara itu kebingungan mencari letak rumah Gading. “Mas, kok masih disini, sudah sore, nanti kita tidak ada waktu ke Wanagama.” Wisnu melonjak kaget, kemunculan Gading tiba-tiba sekali, pembawaan Gading memang tenang, berjalanpun nyaris tak terdengar. Mungkin juga Gading takut nanti kebanyakan polusi suara. Gading ingin tertawa, tapi ditahan mengingat mereka kakak kelasnya. “Iya, maaf Ding, tadi kami telat gara-gara nyari rumah kamu,” ucap  Hedi. Yang lain mesem-mesem. Gading tersenyum dan mengajak mereka menuju rumahnya. “Ingat Mas, sebelah kanan, jangan ke kiri, nanti nyasar ke kali lho.” Jelas Gading. Sebenarnya rumah Gading tidak jauh, hanya perlu memilih jalan ke kanan atau ke kiri saja, yang ke kanan masuk ke hutan bambu, itulah jalan menuju rumah Gading, sedang yang kiri menuju Kali Bunder, kali yang menjurus ke Kali Slempret yang membelah Hutan Wanagama.

“Weeehh, itu rumahmu Ding?” Ipung heran melihat bentuk rumah Gading yang keseluruhannya terbuat dari bambu kecuali gentengnya. Tidak terlalu besar, tapi dibuat tinggi seperti rumah adat di Jambi. Lalu Pak Sastro keluar, menyapa ketujuh tim Elang. “Pak kenapa sih rumah bapak di tengah hutan gini?” tanya Sapto penasaran. “Maunya dimana Mas Sapto, di pinggir jalan kan banyak polusi,” jawab Pak Sastro santai.

“Yee, nanya beneran pak,” Sapto bersungut tak puas. “Iya, karena dari dulu Mbahnya Gading disini makanya tinggal menempati saja, lagian siapa yang mau menjaga hutan ini Mas, pemerintah ngasih lahan disini juga sudah alhamdulillah.” Pak Sastro tersenyum.

“Ooh, jadi kalau nama Gading itu pasti juga karena dia lahir di daerah Gading ya Pak?” sambung Ipung. Pak Sastro mengangguk. “Kalau ‘T’. di depan namamu itu ‘T’ apa sih Ding? Hedi beralih ke Gading. “Tarzan, Hed!” sela Wisnu, yang lain tertawa termasuk si empunya nama. “Boleh juga tuh Mas Wisnu, ‘T’ itu Tama dari nama bapak Sastro Utomo, tapi Tarzan juga boleh kok, kan rumah saya di hutan,” timpal Gading. Semua tertawa.

Mereka berangkat ke Wanagama dengan sepeda motor. Sesampai di tempat Wendi takjub, Hutan Wanagama ternyata lebih besar dan indah, terdapat jalan aspal ditengahnya, pohon-pohonnya masih rindang, tidak banyak yang di tebang seperti Hutan Cangkring di daerah selatan. Di pintu masuk sebelah kanan terdapat lahan khusus untuk pohon Murbei, disebelah kiri adalah gedung pengembangbiakan ulat sutera yang di lindungi oleh bagian kehutanan UGM. Wendi masuk ke lahan Murbei dan memetik buahnya, “Wah banyak  murbei Sap, sini!” Wendi kegirangan mengajak Sapto masuk. “Weii..lihat tuh, ada ulat sutera segede manusia, serem, kalau ulatnya segede itu, pasti benangnya banyak, kain sutera jadi murah,” celetuk Hedi, semuanya lagi-lagi tertawa. Wendi sebal dan berlari menyusul mereka.

Gading menunjukkan jalan menuju Kali Slempret, menyusuri tangga batu yang menjorok ke bawah dan sangat licin. Arus Kali Slempret sangat deras sekalipun musim kemarau, ada beberapa bagian hutan yang hampir kering, Gading bilang, banyak pencuri kayu menebang pohon di daerah itu, sekarang tinggal semak- semak kering ditengah sebagian hutan. Penjaga Hutan Wanagama memang kurang waspada, berbeda dengan Hutan Bunder yang selalu di pantau Pak Sastro dengan ‘trik pocongnya’, memasang kayu yang dibalut kain putih. Banyak pencuri kayu yang tertipu ketika malam beroperasi, hingga pencurian mereka gagal. Pak Sastro jelas tidak sanggup mengawasi hutan seluas itu, tugasnya hanya di Hutan Bunder, hanya seminggu sekali ia meninjau Hutan Wanagama, itu bukan karena soal tanggung jawab kerja yang diberikan dinas kehutanan, tapi juga tanggung jawab moral melindungi hutan di daerah sendiri, itu yang menjadi alasannya.

Seminggu kemudian, Hedi menerangkan lintas area untuk latihan aeromodeling dengan dua pesawat mini dengan komponen rakitan lengkap. “Ingat, kedua pesawat ini bisa meledak dan terbakar apabila pendaratan kalian gagal, jadi hati-hati.”

“Mas, sebaiknya  memperketat rutenya, jangan terlalu lebar, masalahnya jika penerbangan gagal, bangkai pesawat akan sulit dicari dan berbahaya, karena banyak penduduk yang mencari rumput hampir di seluruh penjuru hutan ini.” Tambah Gading memperingatkan. Semua setuju.  Akhirnya latihan terbang pesawat rakitan Team Elang di mulai, take off dari depan Pendopo Wanagama dan terbang melintasi rute yang sudah diatur. Penerbangan menggunakan remote control yang sedikit rumit. Hedi memegang kendali, Sapto dan Wisnu mengawasi di pinggir sungai. Gading ikut membantu, yang lain memantau. Pesawat yang satu dalam kendali Ipung dibantu Wendi, sedangkan Andi dan Gatot mengawasi tak jauh dari lokasi Sapto dan Wisnu.

Pesawat Hedi berputar, berbalik dan mengitari di atas Kali Slempret selama sepuluh menit, Hedi masih memegang kendali dengan konsentrasi penuh. Ipung tak kalah atraktif menerbangkan pesawatnya, sampai keasyikan, pesawatnya menuju arus berlawanan, Ipung belum menyadari, Andi dan Gatot mulai kebingungan. Pesawat Ipung semakin menjauh dari atas sungai, menuju arah timur, Gatot berlari naik ke atas dengan susah payah, tidak bisa mengomando tanpa naik ke Pendopo. Pesawat Ipung semakin menjauh, dia kehilangan kendali. Hedi terpaksa landing lebih cepat. Ipung Panik. Hedi landing dengan sukses, akan tetapi sudah terlambat, remote control sudah tak berfungsi di tangan Ipung, pesawat rakitan berukuran medium itu jatuh di bagian hutan sebelah timur. “Duaarr…!” pesawat itu meledak dengan bunyi yang lumayan keras, mereka sudah bisa melihat letak jatuhnya pesawat akan tetapi kondisi hutan yang membuat mereka panik. “Gila kamu Pung, ini bukan pesawat mainan, konsentrasi Pung, bahaya tau!” Hedi sangat marah melihat Ipung tak berdaya setelah menikmati permainan pesawatnya.

Sudah lima belas menit berlalu, mereka masih mencari jalan menuju lokasi jatuhnya pesawat, sayang, ledakan pesawat itu mengakibatkan hutan yang kering terbakar beberapa meter. Pohon yang masih hidup pun terkena kobaran api yang semakin membesar. Gading dan Farid yang pandai berenang menyeberang kali Slempret secepatnya membawa ember untuk menyirami api sebelum membakar semua hutan. Mereka bersama-sama melakukannya, dalam waktu setengah jam api padam, wajah-wajah mereka tak berdaya antara ketakutan dan capek. Persami mereka gagal karena harus melaporkan peristiwa itu secepatnya. Pak Sastro dengan tenang menasehati tim Elang. “Tidak perlu panik Mas, ini juga tidak perlu kita laporkan ke dinas kehutanan jika kita punya jalan keluar.” Nasehat pak Sastro. “Apa itu pak?” Ipung tak sabar karena takut akan dihukum. “Mudah, kalian bersihkan hutan itu dan tanami dengan bibit pohon baru secukupnya, biar bisa kalian pakai latihan lagi lain kali.” Menyadari kesalahannya, Ipung tak keberatan. “Pohon apa pak? Saya tidak masalah daripada dihukum.” Tegas Ipung. Yang lain sudah lega. “Apa saja boleh mas, asal jangan pohon Ciplukan,” goda pak Sastro, yang lain tertawa sambil mencolek Ipung.

Sebulan berlalu, mereka kembali menggunakan Hutan Wanagama sebagai tempat latihan, hal itu membuat hutan jadi terurus, berpenghuni. Perluasan lapangan sudah dilakukan, beberapa bangunan resort pun sudah berdiri, ada yang masih dalam proses. Pak Sastro sudah menyerah dengan keputusan itu, tugasnya hanya menjaga Hutan Bunder. Walaupun penyesalan yang amat sangat dia rasakan. Masih beruntung rumahnya tidak ikut di rombak. Kali Bunder menjadi sangat kotor, kardus semen dan batu-batu berantakan di sekitarnya. Memasuki musim hujan ini banjir tak bisa ditanggulangi, air meluap menggenangi bawah rumah Pak Sastro. Gading dan ibunya sibuk membersihkan kandang rusa yang juga tergenang. Lingkungan sekitar menjadi bau walaupun keluarga itu sudah bersusah payah membersihkan kotoran rusa. Tidak ada jalan lain menghambat air yang meluap. Hanya menunggu sampai hujan reda kembali. “Ini baru dampak ringan ya Pak? Belum nanti setelah resort itu jadi, tambah polusi.” Gading membuka percakapan dengan bapaknya. Ibu Gading hanya menghela nafas, entah mau bicara apa. “Yaa kita bisa apa Le, mereka tidak akan mendengar kita lagi, biar sajalah, hukum alam yang akan memperingatkannya. Tuhan memberi hadiah tak ternilai pada kita selama ini, sudahlah…kita sudah selayaknya bersyukur.” Tanggap Pak Sastro bijak, Gading dan Ibunya mengangguk.

Pukul lima pagi keluarga itu sudah beraktifitas selepas sholat subuh, Pak sastro sudah bersiap menuju sekolah, dibantu istrinya menyusun gorengan dalam bakul untuk dijual ke kantin sekolah. Tiba-tiba Bu Sastro terjatuh badannya terasa limbung, sepeda di depan rumah roboh, kepala Gading kecedot pintu yang bergerak sendiri, sebagian genteng jatuh begitu saja. Pak Sastro pun merasa berdirinya tak seimbang, baru satu menit kemudian mereka sadar, “lindu..linduuu…Gading, cepat keluaaaarr”…teriakan Pak Sastro dan istrinya menyadarkan Gading yang segera keluar memeluk kedua orang tuanya. Sayup-sayup terdengar teriakan panik dari kampung sekitar. Mereka berdo’a dalam ketakutan yang sangat, baru kali ini di Gunungkidul ada gempa begitu dahsyat. Biasanya hanya gempa kecil dari getaran Gunung Merapi, tidak sekuat gempa pagi itu.

Selang beberapa menit mereka keluar hutan menuju jalan raya, sebagian penduduk Bunder sudah berlarian. Ketiganya langsung menuju sekolah, penduduk menangis, perumahan baru di Gading hancur, termasuk SMAU Angkasa. Gempa 5,9 Skala Richter telah menghancurkan Jogjakarta dan sekitarnya dalam sekejap. Jembatan Bunder terbelah, bangunan resort baru tidak ada bekasnya lagi, semua sia-sia. Pagi itu semua tertunduk pasrah. Menyisakan Hutan Bunder yang kelihatannya menahan pilu peristiwa ini dan satu, rumah Gading. Beberapa genteng jatuh, namun tanaman hias dalam pot-pot kecil masih utuh, rumah Gading masih berdiri tegak, tak ada sedikitpun yang retak oleh gempa. Itulah hadiah dari Tuhan atas kepedulian mereka. Sorenya, Pak Sastro dan Gading membantu penduduk membuatkan tenda-tenda darurat di lapangan dan sebagian hutan. Malamnya, semua ‘menenangkan’ diri dalam tidur dibalut sesal yang semoga segera lebur bersama hujan, menanti mentari  menyinari Gading esok nanti.

Sumber disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: