Ekranisasi Cerpen dan Film Emak Ingin Naik Haji

Ekranisasi adalah pelayarputihan atau pemindahan sebuah novel kedalam film (Ecran dalam bahasa perancis berarti layar).

Ekranisasi Cerpen dan Film Emak Ingin Naik Haji

1)      Adegan Pembuka yang berbeda

Didalam cerpen Emak Ingin Naik Haji adegan awal dimulai saat Zein tengah ditabrak oleh sebuah mobil, lalu sosok tubuh Zein terkapar di Trotoar dengan sebelah tangannya tetap terkepal. Jeritan dan teriakan orang-orang terdengar keras memekakan  telinga melihat kejadian tersebut. Namun pada film diceritakan adegan awal dimulai dari sosok Zein yang tengah melukis ka’bah kemudian Zein tertidur dan kemudian dibangunkan oleh emak, lalu mereka berdua sholat subuh berjama’ah.

Dalam hal ini Aditya Gumai sang sutradara memikirkan jalan pikiran penonton. Karena tidak semua penonton film mengerti tentang apa yang ada dan dipertontonkan di film. Apalagi jika suatu film menggunakan alur mundur, lalu diteruskan dengan alur maju, mereka yang tidak paham akan teori-teori sastra tentu akan merasa bingung. Seperti apa film ini dan jalan cerita yang terjadi. Sehingga sutradara mengambil adegan perkenalan tokoh terlebih dahulu.

2.) Adegan Ditengah

  • Saat kecelakaan terjadi diceritakan pada cerpen bahwasannya ,kecelakaan itu pada tempat yang ramai sehingga seseorang memekik dan menjerit. Namun pada film adegan tersebut tidak seperti itu, Zein berjalan dipinggir trotoar yang sepi kemudian tertabrak oleh sebuah mobil. Di dalam cerpen, kupon yang ia pegang beserta Koran terbawa angin, namun pada film kupon undian tersebut terbawa air di parit sebelah jalan. Suasana saat terjadinya kecelakaan pada cerpen adalah hujan, terbukti dari kalimat pada cerpen “titik-titik air yang meluncur serentak seperti derap sepatu tentara yang melengkah dengan kemarahan”. Hal ini nyata sekali bahwa suasana saat kecelakaan hujan deras. Namun pada film suasana yang dibangun saat terjadinya kecelakaan adalah pada siang hari dengan cuaca yang cerah.

Dalam kecelakaan yang dialami Zein, Aditya gumai membuat kejadian tersebut secara cepat tanpa harus menyamakan setiap kegiatan seperti pada yang terjadi didalam cerpen. Hal ini dikarenakan ending yang ingin didapat oleh sutradara adalah ending yang tidak sama dengan di cerpen. Pada cerpen ending yang digunakan adalah saat puncak konflik, yakni saat kecelakaan terjadi. Sehingga tidak memerlukan efek cuaca yang terlalu mendramatisasi yakni dengan turunnya hujan.

Pada cerpen diceritakan saat adegan percakapan antara emak dengan zein, dijelaskan bahwa Haji Saun pergi haji tahun ini beserta istri dan mertuanya. Terbukti dari omongan emak “sama Istrinya, Zein. Mertuanya juga ikut”. Namun pada film yang akan naik haji adalah Haji Saun, Hj. Markonah, Dika, dan Nita, bukan dengan mertuanya. Pada cerpen dijelaskan pula harga ONH adalah 35 juta namun pada film 30 juta.

Dalam cerpen terdapat tokoh Sri yakni anak kedua dari Haji Saun yang berkulit hitam manis. Namun pada film tokoh Sri tidak ada dan anak haji Saun berjumlah tiga yakni, Alifah yang telah bersuamikan Deny, kemudian Dika yang masih pelajar SM A, dan Nita yang merupakan gadis SMP, jadi jelas sudah bahwa anak kedua adalah Dika bukanlah Sri. Dicerpen juga dijelaskan bahwasannya Sri cukup akarab dengan keluarga emak. Dalam adegan di cerpen Sri anak kedua juragan haji lah yang menyuruh Zein untuk membantu dalam acara persiapan Ratiban. Namun di dalam film tokoh Sri digantikan oleh sosok Siti yang centil dan menyuakai Zein yang menyuruh Zein untuk membantu dalam acara ratiban tersebut dan membantu menemani Hj  Markonah ke Supermarket. Siti adalah pembantu Haji Saun.

Perubahan karakter dilakukan oleh sutradara mungkin agar lebih terlihat merakyat dan lebih diterima masyarakat, karena di cerpen tokoh Sri yang merupakan anak Haji Saun seringkali berinteraksi  dengan emak dan Zein, yang mungkin hal tersebut tidak seharusnya dilkukan oleh anak seorang muslim yang taat apalagi anak  seorang haji, yang telah paham sariat agama juga. Untuk itu pada film dibuat sesosok tokoh Siti yang merupakan pembantu Haji Saun yang secara pergaulan bebas dan logis untuk bergaul dengan emak maupun Zein. Pada cerpen tokoh Sri dibuat seolah-olah dia mempunyai perasaan khusus terhadap Zein, terbukti dengan beberapa kali penceritaan yang menceritakan keakraban Sri terhadap Zein dan Emak yang juga sering menceritakan seperti apa mekah dan telah berbaik hati memberi Zein kupon undian yang hadiahnya adalah naik Haji.

Dalam film diterangkan bahwasannya Siti menyuruh emak untuk mebuatkan  500 kue guna keperluan ratiban, dan pada film ini emak ikut aktif dalam kegiatan di rumah Haji Saun, namun pada cerpen tidaklah demikian, emak sama sekali tidak diceritakan untuk berinteraksi dengan keluarga Haji Saun.

Hal ini dimungkinkan oleh Aditya Gumai, sebab interaksi yang dilakukan oleh emak nantinya akan berhubungan erat dengan ending cerita pada film yang mengharuskan emak untuk lebih banyak berinteraksi dan ikut campur guna menguatkan karakter emak dan jalan cerita, sebab pada jalan cerita diceritakan bahwa anak pertama Haji Saun yakni Alifah, dahulu sangat dekat dengan emak. Dan dalam interaksi dirumah Haji Saun pula karakter  tokoh emak yang sangat menginginkan untuk naik haji sangat kuat, terbukti dari sebuah adegan saat emak merenung dan berbinar menatap gambar-gambar ka’bah milik Dika (anak kedua Haji Saun), yang selanjutnya diperebutkan oleh kedua ponakan Dika dan membuat gambar tersebut sobek, namun karena terkesannya emak terhadap ka’bah, beliau rela mengambil dan memperbaiki gambar yang telah rusak yang Dika berikan kepadanya.

Pada cerpen diceritakan pula bahwa sekretaris pak Joko adalah Mitha seorang gadis cerdas dan sangat cantik, juga sangat menggoda terbukti dari sebuah pernyataan “Aroma parfum yang sensual tercium keras saat gadis bertubuh sintal itu menyodorkan sebuah formulir untuk diisi”, dan juga dijelaskan pada kalimat “dari awal dia sudah mencium sesuatu yang berbeda pada gadis ramping itu. Terlalu sempurna dan cerdas untuk seorang sekertaris yang mengaku belum punya pengalaman”.  Hal ini tentu berbeda dengan karakter tokoh yanti pada film yang merupakan pengganti sekertaris pak Joko, tokoh yanti pada film digambarkan tidak terlalu cerdas dan bahkan terkesan terlalu banyak omong terbukti dari sebuah adegan pada saat yanti dan pak joko sedang menyumbang pada suatu masjid dan mengundang wartawan, disitu ia berbicara suatu hal yang membuat ia kampungan dan tidak berkelas. Tokoh yanto juga tidak sesensual yang orang bayangkan pada cerpen. Tokoh mitha pada cerpen digambarkan seringkali menggunakan rok pendek di atas lutut terbukti dari pernytaan pada cerpen “ jlas mitah, sekertaris barunya yang selalu di balut rok di atas lutut itu, panjang lebar”.  Sedangkan tokoh yanti (pada film) tidak terlihat memakai rok mini selutut dan bahkan mengenakan setelan blush dan celana panjang.

Semua adegan pada film disesuaikan dengan ending cerita, dan hal ini dimungkinkan karena pada cerpen sosok Mitha digambarkan sesorang yang licik yang dari awal telah merencanakan sesuatu untuk memeras dan menghancurkan Pak Joko, maka dari itu haruslah tokoh Mitha merupakan tokoh yang sexy dan sensual. Sedangkan pada tokoh Yanti dibangun karakter sebagai seorang sekretaris biasa yang menginginkan kemewahan meskipun harus menjadi simpanan Pak Joko.

Pekerjaan Zein yang merupakan seorang pelukis dikuatkan pada adegan saat ia berjualan kaligrafi. Pada cerpen adegan saat Zein berjualan ditunjukkan pada siang hari saat pukul 12 siang, saat penjual kebanyakan telah sepi , namun pada film digambarkan zein berjualan saat pagi hari dengan cuaca yang cerah. Di cerpen juga diterangkan bagaimana seorang penawar mengacuhkannya dari ibu-ibu berpakaian training dan bertopi besar sampai sepasang suami istri yang tengah menawar tetapi tidak membeli malah mencatat semua harag kaligrafi tersebut. Sedangkan pada film adegan bahwa Zein seorang  pelukis adalah digambarkan pada saat awal film, dengan menggambarkan sosok Zein yang mahir dan lincah dalam memainkan kuasnya, ia menari-nari diatas kanvas dengan lukisan ka’bah yang hampir ia selesaikan. Adegan saat Zein berdagang adalah saat pagi hari di sebuah pasar , lalu hanya ada seorang ibu-ibu yang menawar lukisanZein dengan harga modal namun  penawar tersebut gagal membeli lantaran  Zhia mantan istri Zein ikut campur dalam penawaran dan mencibir peanawar sehingga membuat dia kesal.

Dalam cerpen ini Zein tidak digambarkan manjadi seorang duda atau pun mempunyai status atau bahkan pernah mempunyai status dengan seseorang , namun pada film,  Zein di terangkan pernah mempunyai seorang istri dan kini tengah berstatus duda, mantan istri yang dahulu bernama Zia seorang yang cerewet dan tidak tahu malu. Disini dijelaskan bahwa Zia seorang yang sangat menyebalkan, dalam sebuah adegan dan kini telah mempunyai seorang suami yang merupakan pegawai negeri, namun sikap zia yang selalu  merepotkan zein  dan emak dengan meminta uang atas nama Aqsa (anak antara Zia dan Zein) yang terkena hernia dan harus segera di operasi sehingga membuat emak mengambil kembali uang 5 juta yang telah ia setorkan pada Bank sebagai tabungan haji.

Hal ini juga menimbulkan konflik fisik yang dialami zein, terbukti dari sebuah adegan dimana Zein dan suami Ziah berkelahi di Rumah sakit saat Zein menemukan bahwa Zia telah berbohong kepadanya tentang biaya yang dkeluarkan untuk operasi Aqsa. Pada cerpen tidak jelaskan bahwa emak bekerja sebagai penjual kue dan mempunyai tabungan sebesar 5 juta, hal tersebut hanya ada pada film.

Konflik batin dimulai saat tabungan emak sebesar 5 juta rupiah harus ia berikan kepada zia yang mengatasnamakan pengobatan Aqsa. Hal ini terjadi pada film, sedangkan pada cerpen digambarkan bahwa konflik batin yang di alami adalah kebanyakan keinginan emak untuk pergi ke tanah suci Mekkah.

Konflik batin juga dirasakan oleh Zein, pada cerpen Zein yang sudah tidak kuat karena mendengar keinginan Emak yang yang meminta padanya untuk agar ia bisa naik haji. Zein berkeinginan dan bertekad untuk merampok mlam itu juga. Namun pada film konflik batin yang dirasakan Zein adalah karena ia melihat Emak menangis dan menitikkan air mata pada Al-Qur’an saat ia mengaki, sesaat setelah ia menyerahkan uang pada Zein. Dalam perampokan yang akan dilakukan Zein, pada cerpen ia membawa parang dan golok, tali, dan plastic, serta sapu tangan untuk menutupi wajahnya. Namun pada film Zein hanya membawa sebilah golok dan memakai penutup kepala untuk menutupi wajahnya.

Pada cerpen, Zein setelah memasukkan barangnya ke ransel dan ingin meninggalkan surat untuk Emak . ia menemukan kupon undian di dalam saku celananya, yang diberikan oleh Sri, yakni kupon undian belanjaan berhadiah naik haji, setelah dari supermarket. Namun pada film dijelaskan bahwa Zein benar-benar merampok dan memasuki rumah haji Saun, kupon pun didapatkan Zein setelah melihat Hajah Markonah membuang kupon undian haji kedalam tong sampah sesaat sebelum ia keluar dari supermarket. Pembatalan  perampokan Zein pada cerpen ketika ia menemukan kupon di dalam sakunya. Namun pada Zein perampokan tetap ia jalankan dan namun ia sadar ketika melihat Al-Qur’an yang tergeletak diatas tempat tidur dan teringat suara ngaji Emaknya yang menggema. Serta penemuan kupon undian haji oleh Zein setelah ia merampok rumah Haji Saun dan berhasil lari dari kejaran warga. Ia menemukan kumpulan kupon dan bersujud syukur serta menyesali perbuatannya. Pengisian kupon oleh Zein pada cerpen sesaat setelah ia menemukan kupon tersebut pada tengah malam itu. Namun pada film, pengisian kupon ia lakukan pagi setelah itu dengan pengisian kupon oleh pelayan supermarket di tempat itu pula. Dalam cerpen, niat Zein untuk merampok telah ia rencanakan. Saat mengantar belanjaan, ia memanfaatkan untuk melihat-lihat rumah Haji Saun namun pada film, perampokan dilakukan saat Zein telah berusaha mencari uang pengganti Emak, hingga tengah malam ia keliling ke rentenir juga. Namun tidak ada hasil, dan saat ia mengantar belanjaan pun ia tidak sengaja mengetahui dimana uang tersebut ditaruh saat melihat haji Saun menghitung uang.

Pada cerpen sebelum proses kecelakaan terjadi, dijelaskan bahwa Pak Joko dan istrinya tengah berselisih paham tentang kekhilafan Pak Joko terhadap sekretarisnya. Istrinya tampak tenang meskipun baru saja ia dilanda musibah yang hebat tentang perselingkuhan suaminya. Namun pada film, istri Pak Joko dating kekantornya dan melabrak secara terang-terangan Pak Joko serta menamparnya dengan penuh emodi. Tentulah hal itu beda dengan keadaan di cerpen.

Istri Pak Joko digambarkan mengenakan kaca mata saat bertemu dengan Pak Joko di sebuah kafe. Namun pada film, istrinya tidak memakai kaca mata tetapi memakai kerudung yang lalu dilepasnya, dan kejadian itu berlangsung di kantor bukan di kafe seperti yang digambarkan di cerpen.

Pada cerpen digambarkan dalam kecelakaan itu, istri pak Joko melarikan diri bengan mobil mewahnya, sesaat setelah menabrak Zein. Namun pada dalam istri Pak Joko meninggal dunia karena kecelakaan tersebut.

Akhir cerita

Akhir cerita yang digunakan pada cerpen dan film pun berbeda. Pada cerpen ending cerita dibuat puncak konflik kemudian terhenti tanpa penyelesaian, yakni saat Zein terkapar di trotoar dan membayangkan emaknya memakai baju ihram saja. Namun pada film terdapat penyelesaian atau diakhiri dengan “Happy Ending”, yakni setelah kecelakaan kemudian diceritakan bahwa Akifah mempunyai nazar “jika ia berhasil selamat beserta bayinya dalam persalinan, ia ingin membiayai Emak untuk naik haji”. Dan diakhiri dengan sujud syukur Emak, lantaran Haji Saun beserta keluarga menginginkan Emak dan Zein naik haji tahun depan.

Rhesi Elmia Ningsih

Sastra Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: