Berteman dengan Rasa Cemas

Manusia merupakan makhluk yang berakal, untuk itu tak heran apabila memiliki sebuah keinginan yang kuat untuk memenuhi setiap kebutuhannya. Semua yang diinginkan pastinya harus yang terbaik bagi mereka. Sesuatu yang baik itu harus di tempuh melalui pengorbanan yang tidak gampang pula. Kecemasan seringkali menjadi penghambat dalam sebuah usaha dan pengorbanan tersebut. Terlalu memikirkan hasil yang akan didapat untuk menunjukkan kemampuannya yang terbaik adalah sifat manusia yang wajar. Namun, apabila manusia itu tidak mau berkembang dan selalu dirundung oleh kecemasan maka tidaklah mungkin untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik bagi mereka. Rasa cemas yang berlebihan akan membentuk suatu sugesti negatif  dalam diri manusia.

Sulaeman (1995: 80) mengatakan “orang yang tidak mempunyai dasar dalam menjalankan tugas (hidup), sering ditimpa kegelisahan. Kegelisahan yang demikian sifatya abstrak sehingga disebut kegelisahan murni, yaitu merasa gelisah tanpa mengetahui apa kegelisahannya, seolah-olah tanpa sebab.” Seringkali manusia mengalami hal semacam itu, sehingga menimbulkan pengaruh yang buruk bagi semangat hidup yang ia miliki. Untuk itu tidak ada salahnya jika kita berteman dan memahami perasaan cemas yang kita alami serta mencoba mengatasinya dengan selalu berpikir positif dan percaya akan semua kehendak yang telah ditakdirkan Tuhan.

1.      Penyakit Cemas

Cemas merupakan penyakit hati yang dialami oleh setiap manusia ketika manusia tersebut tidak yakin dan percaya terhadap apa yang ia lakukan atau terhadap apa yang orang lain perbuat. Perasaan ini manusiawi. Setiap orang pastinya pernah merasakan hal ini. Rasa cemas terkadang sangat menyiksa batin bagi setiap orang yang sedang mengalami perasaan tersebut. Cemas sendiri sebenarnya adalah bagian dari rasa takut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa arti dari kata cemas adalah perasaan tidak tentramnya hati atau kegelisahan hati.

Perasaan cemas adalah sebuah perasaan gelisah yang didasari oleh rasa takut dan khawatir akan sesuatu hal yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Seperti yang dikatakan Sulaeman (1995: 80) “perasaan seseorang yang sedang gelisah, ialah hatinya tidak tentram, merasa khawatir, cemas, takut, jijik, dan sebagainya. Perasaan cemas dapat diartikan pula sebagai perasaan gelisah dan khawatir.

2.      Klasifikasi Cemas

Perasaan cemas menurut Bruno (1998: 4—9) dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

1.      Kecemasan yang realistis. Kecemasan ini adalah suatu kecemasan yang sesuai dengan keadaan.

2.      Kecemasan eksistensial. Kecemasan ini adalah suatu kecemasan mengenai eksistansi itu sendiri. Dengan kata lain, kecemasan ini merupakan kecemasan tentang keadaan manusia yang tidak bisa melepaskan diri dari keadaan tertentu.

3.      Kecemasan neurotik. Kecemasan ini adalah suatu kecemasan yang tidak realistis, irasional, dan sama sekali tak berguna.

3.      Formula Untuk Mengatasi Rasa Cemas

Perasaan cemas merupakan sesuatu yang wajar. Namun, jika rasa cemas tersebut tidak ditanggulangi, maka akan membuat hidup terus-menerus dirundung rasa takut sehingga membuat tidak tentramnya hidup seseorang . Ada beberapa teknik untuk memecahkan rasa cemas tersebut. Pranadiptha (2010) menjelaskan bahwa teknik untuk memecahkan rasa cemas adalah sebagai berikut.

1.      Menganalisa situasi yang sedang di hadapi dengan tanpa rasa takut dan dengan jujur serta membayangkan akibat apa yang paling buruk yang dapat menimpa kita karena kegagalan tersebut,

2.      Setelah menggambarkan akibat yang paling buruk yang mungkin bisa terjadi, teguhkan hati untuk berani menerimanya apabila memang harus terjadi, dan itu akan membuat hati kita merasa tenang dan damai,

3.      Dengan perasaan tenang kita dapat mengabdikan waktu dan energi kita untuk berusaha memperbaiki akibat paling buruk yang telah digambarkan oleh kita dan telah kita terima secara jiwani tersebut.

4.      Biarkan Semua yang Terjadi Mengalir Seperti Air

Air yang mengalir diibaratkan pada sebuah kecemasan yang terjadi pada kehidupan yang terus berjalan. Air mengalir sesuai dengan kodratnya, yakni terus berjalan melewati setiap cela-cela yang dapat ia lalui. Begitu pula dengan persoalan hidup, harusnya seperti air yang mengalir dan tidak perlu merasa cemas secara berlebihan dalam menjalankannya. Air yang mengalir tidak pernah kembali kepada asal ia dialirkan, namun akan terus berjalan melewati setiap alirannya. Rasa kecemasan pada hidup pun sama adanya, harusnya jangan pernah dipikirkan apa yang telah terjadi dalam setiap persoalan hidup, hingga menimbulkan suatu ketakutan yang merugikan diri kita sendiri. Teguhkan hati dan perasaan untuk saling ikhlas dan percaya pada sesuatu yang kita cemaskan, seperti air yang terus mengalir tanpa harus berbelok kembali ke asal.

5.      Akibat Perasaan Cemas yang Melanda

Cemas seringkali menjadikan sebuah ketakutan yang luar biasa pada diri kita. Seringkali sesak rasanya dada ini jika memikirkan sesuatu dengan penuh perasaan cemas. Pernahkah kita membayangkan bahwa sesungguhnya penyakit cemas itu sangat berbahaya bagi kita. Perasaan cemas yang berlebihan akan menimbulkan sebuah Fobia. Akibatnya kita akan selalu tertekan saat membayangkan sesuatu dengan penuh kecemasan. Hal  tersebut sangat merugikan waktu, pikiran, dan tenaga kita untuk sesuatu yang percuma dan sebenarnya hanya halusinasi dan kekhawatiran kita belaka.

6.      Membasmi Kecemasan

Lantas bagaimanakah kita meghilangkan rasa cemas pada diri kita? Jawabannya adalah kesibukan. Seseorang yang mengalami kecemasan biasanya penuh dengan nafsu, emosi, dan cenderung uring-uringan. Semua itu dapat diobati dengan sebuah kesibukan. Pikiran akan terfokus sepenuhnya pada kesibukan yang sedang dijalankan. Sehingga membuat seseorang perlahan melupakan apa yang sedang ia cemaskan. Hal ini sangatlah wajar, ketika seseorang berkosentrasi pada sesuatu hal dan dipecah pada hal lain, maka secara otomatis perhatiannya akan terbagi menjadi dua, sehingga persoalan yang baru perlahan akan menyita seluruh perhatiannya. Kesibukan memang menjadi jawaban atas perasaan cemas yang melanda. Untuk itu jika ingin membasmi semua perasaan cemas maka mencari kesibukan yang positif adalah jalannya.

7.      Cemas atau Tenang

Sebuah ketenangan akan menjadikan hidup seseorang lebih baik jika dibandingkan dengan sebuah kecemasan yang melanda. Perasaan tenang akan membuat jiwa menjadi lebih tentram dan damai saat menghadapi sebuah persoalan. Dalam menghadapi masalah jika dilakukan dengan santai dan tenang maka akan menghasilkan sebuah keputusan yang logis (masuk akal) dan membuat sebuah keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, karena kita dalam keadaan sadar. Namun, berbeda halnya saat kita dalam keadaan cemas. Kita menjadi sulit untuk memikirkan sesuatu yang benar atau salah sehingga menimbulkan keputusan yang buruk dan terkadang tidak rasional karena dalam keadaan yang kacau dan tidak bisa berpikir jernih, sehingga keputusan yang diambil pun tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jelas sudah bahwa ketenangan lebih baik daripada sebuah kecemasan dalam mengahadapi persoalan. Dibalik semua perbedaan itu terdapat sebuah kesamaan antara kecemasan dan ketenangan yakni kedua perasaan itu selalu muncul dalam diri kita baik dalam keadaan sadar maupun tidak, pastinya seseorang pernah megalami saat-saat penuh rasa cemas dan saat-saat penuh rasa tenang pula.

8.      Kesimpulan dan Saran

Dari semua uraian yang dijabarkan diatas, nyata sudah bahwa perasaan cemas sangat mengganggu pikiran, karena terlalu banyak hal negatif yang dihasilkan dari perasaan tersebut. Beberapa hal yang dapat dijadikan obat untuk penyakit cemas adalah dengan sebuah keyakinan dan kesibukan. Sehingga hendaknya kita dapat melakukan sesuatu hal tanpa perasaan cemas dan takut, karena perasaan tersebut akan merugikan kita dalam sebuah persoalan yang sedang dihadapi. Jaya (2007:117) mengatakan “lakukan apa yang anda takutkan dan rasa takut akan lenyap.” Seperti halnya ketakutan, rasa cemas pun dapat diartikan demikian. Bahwasannya, kita harus bisa menaklukkan rasa cemas dan rasa cemas itu pun akan lenyap.

DAFTAR RUJUKAN

Bruno, Frank J. 1997. Strategi Memahami dan Menghilangkan Kecemasan. Terjemahan oleh AR. H. Sitanggang. 1998. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Jaya, Ahmad Aris. 2007. 30 Hari Mencari Jati Diri. Bekasi: Pustaka Inti.

Pranadiptha, Vierna. 2010. Menghilangkan Rasa Cemas Dale Carnegie, (online), (http://akhmadsudrajat.wordpress.com /2010/01/02/bagaimana-menghilangkan-cemas-memulai-hidup-baru/, diakses 29 Nopember 2010)

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Sulaeman, M. Munandar. 1995. Ilmu Budaya Dasar. Bandung: PT Eresco.

Disusun untuk memenuhi  tugas matakuliah Dasar-dasar Menulis

Rhesi Elmia Ningsih 

Sastra Indonesia

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


2 comments

  1. mbojosouvenir · · Reply

    yap, dalam kehidupan memang manusia dilibatkan dalam rasa cemas dan itu memang manusiawi. Tak jarang setiap orang yang bisa menanggapi rasa cemas tersebut justru semakin dekat dengan sang Khalik. Bercerita kepadanya akan cukup menghilangkan cemas atau kegelisahan. Nice artikel, salam kenal teman🙂

  2. Terimakasih untuk comentnya…salam kenal juga…sebenarnya kecemasan itu datang saat kita berharap dan menuntut agar sesuatu itu berjalan dengan sempurna. Saat seseorang mulai takut terhadap hal yang belum terjadi..sugesti negatiflah dalam pikiranlah yang membuat rasa cemas itu hadir …😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: