Mengapa Waktu Kita Selalu Salah

Angin sore senja menerpa wajahku berulang kali, saat kutemui diriku lagi-lagi di atas sebuah batu besar di dekat air terjun. Entah kenapa akhir-akhir ini aku meluangkan waktu untuk datang dan berkunjung kesini hampir tiga atau empat kali dalam seminggu. Mungkin sebuah perasaan kesepian yang teramat sangat membuatku menghindari rasa kesepian yang menyergap itu saat berada dirumah. Perasaan tenang segera menyelinap menggantikan perasaan tegang dan hampa yang selalu aku rasakan  tiap kali mengingat wajah isteriku, saat aku datang ketempat ini dan melihat jutaan kupu-kupu yang beraneka warna seakan terbang mengelilingiku. Entah kenapa rasa cinta dan sayang yang teramat padanya, membuatku selalu ingin memeluknya saat melihat ia menangis dalam doa,  tengah malam ia menumpahkan sujud dan tangisnya dalam dekapan kesunyian. Darahku terasa mendesir, inginku marah pada takdir, karena tak membiarkan rumah kami dihiasi oleh jerit tangis bayi. Sudah 5 tahun. Aku dan isteriku menikah, namun tak pernah ada tanda-tanda kebahagian yang dirindukan itu datang. Aku memang tak pernah menampakkan kegelisahan bahkan kekecewaanku padanya, aku mencoba bersikap wajar dan selalu mengatakan kepadanya bahwa semua akan indah pada waktunya, namun dalam hati kecilku yang sangat dalam tentu aku tak bisa membohongi diriku sendiri untuk berharap mendapat keajaiban dan merasakan menjadi seorang ayah. Membayangkan diriku menggendong anakku, mengajarinya fotografi, membuatnya mengagumi alam bahkan kupu-kupu membuatku tersenyum sendiri dengan menahan semua perasaan yang bergelayut dibenakku.

Aku sangat mencitai isteriku, Ning. Bagiku dia adalah sesosok bidadari cantik yang matanya tajam, dan sarat akan ketegasan. Rambutnya panjang hitam dan indah, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, bibirnya mungil namun mengesankan. Perawakannya yang tinggi dan kurus, sesuai dengan porsi tubuhnya. Gaya dan penampilannya pun modis, membuat rekan-rekan kerjaku bahkan teman ku seringkali mencibir, mengapa aku begitu beruntung telah mendapatkannya, seorang wanita cantik, cerdas, dan berkarakter. Namun, kenapa aku selalu tak bisa mengutarakan keinginanku yang terbesar padanya?. Mengapa seolah tiada pernah waktu berpihak padaku untuk satu atau dua detik saja memeluknya dan mengatakan semua perasaan terpendamku padanya. Sesaat kutenggelamkan lagi muka ku dalam apitan kedua siku kaki dan telapak tanganku. Hingga tanpa sadar mataku sedari tadi menatap dan memperhatikan kupu-kupu berwarna pink yang memutar mengelilingi sesosok perempuan muda yang tertawa lepas, di tepi air terjun Baltimurung. Ku lihat sepasang mata teduh itu telah menatapku dalam senyum…

***

Aku terus memperhatikan laki-laki yang  tengah  duduk di atas sebuah batu besar yang sedang menelungkupkan mukanya dilutut. Sejak tadi kuperhatikan ia termenung, berulang kali tersenyum, bahkan terlihat sedang menghembuskan nafas berat berkali-kali. aku pikir mungkin saja dia sedang mempunyai masalah yang teramat berat. Disebelahnya tergeletak kamera canon, yang bersandar pada tas hitam kecilnya. Kupikir mungkin ia menyukai fotografi. Namun, setelah kuperhatikan cukup lama, objeknya hanya kupu-kupu yang ia terlihat tengah bidik. Sesaat lalu, ia memperhatikanku sesaat waktu aku tengah bernyanyi riang bersama kupu-kupu dan gerojokan air yang mengalir dari atas tebing yang tinggi itu. Aku tersenyum tulus kearahnya, sebelum ia menenggelamkan mukanya kembali. Aku sempat merasa kecewa, namun saat ia kembali menengadah dan tersenyum kearahku, degub jantungku rasanya dipompa keras, sungguh menawan, aku belum pernah melihat senyum semenarik itu dari seorang pria. Dia lalu mengambil kameranya dan membidik sasarannya tepat kearahku. Sontak, muka ku memerah dan aku pun menundukkan muka ku memandang apa saja yang ada dibawah permukaan air terjun yang bening ini. Aku malu, ini pengalaman pertamaku, karena aku hanya seorang gadis desa yang tak punya banyak kepercayaan untuk berpose didepan seorang laki-laki tampan dan menarik sepertinya. Kurasa aku jatuh cinta pada pandangan pertama, dan taukah apa yang kusumpahkan dalam hati kecilku. Aku ingin ia menjadi milikku, sungguh pemikiran egois, sementara aku tak pernah tahu siapa dia…

***

Daeng, atau mas Daeng itu adalah nama suamiku. Seorang laki-laki yang  jujur dan apa adanya. Ia juga seorang yang setia, terbukti hingga lima tahun perkawinan kami, meski tanpa dihiasi satu anggota pelengkap lagi, yakni bayi idaman kami, namun ia tetap sayang dan mencintaiku. Laki-laki tampan ini, adalah seorang yang sukses karirnya, dan aku bahagia hidup bersamanya, bukan karena limpahan harta yang ia berikan, namun kasih sayang dan perhatiannya membuatku begitu mencintainya. Akhir-akhir ini mas Daeng seringkali telat atau tidak makan siang bersama ku di rumah, ia lebih sering berkunjung ke Baltimurung, ke air terjun dan ketempat favoritnya itu. Hampir tiga atau empat kali dalam seminggu. Sebenarnya hal itu sedikit membuatku curiga dan cemburu, namun aku takkan sampai hati mengutarakannya, aku lebih senang memendam semua perasaan itu, agar ia tak terbebani dengan perasaan cemburuku yang bodoh dan tak beralasan ini. Toh ia memang seorang yang mengagumi alam dan kekayaan  bangsa yang seharusnya dipublikasikan seluas-luasnya sebagai harta berharga bangsa ini, menurutnya.

Aku berniat untuk membawakan makan siang mas Daeng ke Baltimurung, kebetulan hari ini aku mempunyai waktu luang untuk tidak mengajar, karena tadi pagi tiba-tiba sekolah mempunyai acara khusus siswa, sehingga aku bisa pulang dan menyiapkan makan siang untuk suamiku. Sesampainya aku di Baltimurung, aku celingukan memandang sekeliling area, yang mungkin saja habis diguyur hujan, sehingga keadaan tanahnya cukup licin, dan membuat aku kesulitan untuk berjalan. Entah kenapa kepala ku rasanya pusing sehingga keseimbanganku sedikit bermasalah, hampir saja aku terpeleset dan mungkin akan terbawa arus kalau saja, seorang wanita muda tidak menarikku dengan cepat dan gesit. Ia berprawakan cukup kuat untuk menahan ku agar tidak jatuh di antara jajaran batu yang licin. Ia lalu tersenyum padaku dan mengucapkan sepatah kata yang membuatku terpana menatapnya. “mbak, baik-baik saja?”. Ujarnya dengan lembut, dan sorot mata penuh dengan kekhawatiran, aku tertegun, wanita muda ini sangat cantik, dan begitu halus namun ia kuat. Aku menatapnya dengan perasaan haru bercampur lega bahwa untung ada dia yang meyelamatkanku. Ia segera undur diri dan melangkah bersama gerimis yang mulai turun kembali, setelah berpamitan padaku. Aku menatapnya, dengan doa tulus untuknya, semoga gadis secantik dan sebaik dia mendapatkan orang sebaik dan setampan suamiku, ujarku dengan mengulum senyum…

Mas Daeng terlihat tergopoh panik, mungkin saja ia melihat kejadian itu. Ia segera berlari dan menghampiriku, dengan muka pucat ia memegang tangan ku dan bersyukur berkali-kali lalu bahwa aku tidak mengalami hal yang hampir saja merenggut mungkin nyawaku. aku tersenyum menenangkannya, aku sungguh mencintainya…

***

Sungguh kejam diriku ini, sungguh hina semua ini, sungguh aku tak kan pernah mengira, mengapa harus kesetianku ternoda oleh perasaan yang tak selayaknya ada. Padahal hatiku telah terpenuhi oleh perasaan cinta terhadap satu orang, tapi kenapa masih ada cela?. Aku sungguh tak habis pikir dengan akal dan logika yang terkalahkan oleh perasaan terlarang ini. Aku mengutuk diriku yang terbawa jauh mengalahkan logika yang selama ini aku gunakan. Kini aku benar-benar takluk pada perasaan cinta yang tak selayaknya ada. Diah, nama itu sekarang tengah meraung dikepalaku, beriringan dengan Ning, wanita yang kucintai sepanjang hidupku ini…mengapa Tuhan mempertemukan ku di waktu yang salah? Mengapa saat aku terbawa rasa yang tidak pernah mau dikalahkan oleh logika,,,ah,,aku pasrah..aku mencintaimu Ning..namun Diah..ingin kumatikan rasa ini..harus kukatakan…

***

Aku benar-benar jatuh cinta, untuk yang pertama kalinya. Dia sungguh menyempurnakan hidupku, dia mengisi setiap kekosongan yang ada pada relung terdalam hatiku. Ia ada untukku beberapa bulan terakhir sejak perjumpaan pertama dengannya dulu. Saat dia tengah dirundung masalah diatas sebuah batu besar ia menelungkupkan kepalanya dan ia memotrerku. Ia pun lalu menhampiriku dan mengatakan bahwa ia mencintai tempat ini dan menyukai kupu-kupu seperti aku. Sejak saat itu, kami kerap bertemu, dan saling berceloteh tentang kesukaan kami yakni kupu-kupu dan alam. Sejak saat itu pula kami mulai mempelajari bahasa kupu-kupu yang kami terjemahkan sendiri maknanya. Aku mengenalnya semakin dalam mengenalnya, semakin ku tak ingin melepasnya. Meski baru-baru ini aku tahu, bahkan dari mulutnya sendiri bahwa ia telah mempunyai seorang istri yang teramat ia cintai, dan ia tak bisa meneruskan hubungan terlarang ini, namun entah mengapa aku begitu egois dan dengan bodohnya menganggap itu bukanlah suatu masalah besar yang mesti ia tanggung, jika ternyata ia pun sangat mencintai laki-laki itu. Meski perasaan ini terlarang, tapi aku sudah terlanjur mencintainya, aku tidak bisa membunuh perasaan ini, takkan pernah bisa, aku memahaminya, mungkin lebih dari sekedar siapa pun yang memahaminya, bahwa ia teramat mencintai isterinya, namun karena itu aku sangat mencintainya. Aneh memang tapi ada…

***

Setiap hari, aku semakin pasrah dengan keadaan ini, entah kenapa akhir-akhir ini mas Daeng sering bertingkah aneh dan membuatku khawatir. Aku bertanya tentang keadaan di kantor, ia bilang lancar-lancar saja. Lantas apa? Apa mungkin persoalan bayi lagi? Ah..aku merasa bersalah, mengapa, aku tak bisa memberikan apa yang dia inginkan. Aku merasa lemah sebagai wanita. Kadang ego ku mengatakan haruskah aku melepas mas Daeng untuk wanita lain yang lebih sempurna? Namun aku tak kuasa memikirkannya. Aku teramat sangat mencintainya…

Semoga tuhan mendengar doa hambanya, semoga tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk keluarga kami.

***

Tujuh bulan setelah aku menikah sirih tanpa sepengetahuan Ning, isteriku. Aku merasakan sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Diah sekarang hamil tiga bulan. Dia mengandung anakku, anak yang selama ini aku rindukan kehadirannya, anak yang akan menemani hari-hari tuaku nanti, anak yang akan kuajarkan semuanya tentang alam yang indah ini. Anak yang akan dapat berlari dan menyambutku serta memberantakkan rumah saat aku pulang dari kelelahanku. Anak yang akan menjadi pengibur lara ku dan kesepianku. Anak yang akan kutumpahkan seluruh kasih dan sayang, yang dulu tak pernah aku rasakan, karena sejak kecil aku tidak pernah mempunyai ayah seperti kebanyakan teman-teman sekolahku. Kini aku akan menjadi sosok yang hebat itu. Aku bahagia namun merasa miris dan menangis, aku teringat Ning, bagaimana jika ia tahu hal ini? Bagaimana jika ia meninggalkanku, aku tidak sanggup. Ning harus tahu, entah cepat atau lambat…

***

Entah apa yang terjadi pada suamiku, akhir-akhir ini ia semakin bersikap aneh, kadang ia terlihat begitu bahagia saat setibanya dari tempat favoritnya itu, kadang saat sedang bersamaku dia terlihat sangat murung dan selalu menggenggam erat tanganku serta selalu mengatakan bahwa ia sangat mencintaiku dan tak ingin aku meninggalkannya atau membencinya. Sebenarnya apa maksudnya, aku tidak pernah memahaminya seperti ia memahamiku. Meski aku tahu semua kesukaannya, dari makanan, sampai kegemaran, tahu hal yang dibencinya dari udang hingga tempat keramaian, aku tetap tak pernah tahu isi pikirannya atau cara berpikirnya. Kadang aku merasa, aku tak mengenalnya sebaik ia mengenalku. Kadang aku merutuki diri, isteri macam apa aku yang tak pernah menyadari keinginan terdalam suaminya. Sebenarnya aku juga sedang dalam kebimbangan yang luar biasa. Akankah waktu sanggup menjawab pula. Namun aku membawa kabar gembira.

***

Aku tak kan pernah tega mengatakan hal yang sebenarnya mengganggu perasaanku pada Ning, aku takkan pernah tega mengatakan bahwa aku akan mempunyai anak dari seorang istri kedua, atau lebih tepatnya selingkuhan yang tengah mengandung anakku. Karena sudah pasti itu akan menyayat perasaanya sangat dalam. Apalagi kulihat akhir-akhir ini ia sangat bahagia, terlihat dari pancaran matanya yang selalu berbinar ceria saat menatapku. Hingga aku takkan bisa memaafkan diriku lagi jika sampai hati merebut senyumnya. Air mata membanjiri mataku, mengalir berasama kebimbangan yang aku alami antara bahagia dan bersalah.

***

Hadirnya aku dalam rumah tangga mas Daeng dan mbak Ning memang sebuah kesalahan. Namun, aku tetap menyadari bahwa cinta mas Daeng pada isteri pertamanya itu teramat besar, hingga meski ia telah mendapatkan kebahagiaan yang selama ini ia inginkan yakni akan hadirnya seorang bayi takkan pernah bisa mengalahkan rasa cintanya. Sampai kapan mas Daeng harus menyimpan semua ini, aku juga tidak tahu, aku cuma takut waktunya salah?. Padahal sebenarnya aku rela saja menjadi yang kedua karena aku juga sangat mencintainya, dan entah kenapa dari cerita-cerita mas Daeng, aku begitu menyayangi mbak Ning dan merasa ikhlas jika harus berdampingan dengannya atau bahkan dinomorsekiankan.

***

Harusnya saat ini adalah saat yang tepat untuk aku mengatakannya pada mas Daeng. Aku benar-benar-benar ingin melihat ekspresi wajahnya yang pasti akan menjerit senang mendengar kabar ini. Aku benar-benar ingin membuatnya bahagia. Aku akan membuat kejutan untuknya, hari ini.

***

Aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Ning. Tekadku sudah bulat, aku harus member tahu Ning yang sesungguhnya, aku takkan tega membohonginya terus menerus hingga aku mati. Takkan pernah, dan apa pun konsekuensinya akan kuterima dengan ikhlas, karena ini salahku seutuhnya, Ning dan Diah tidak bersalah. Namun, kenapa perasaanku begitu gundah. Untuk itu aku akan menenangkan diri terlebih dahulu di tempat kenangan kami bertiga. Hujan begitu deras mengalir, aku melamun dalam keheningan hujan, kupu-kupu telah bersembunyi untuk melindungi diri. Sementara aku di atas batu besar menenangkan diri dan mencoba menyusun kata-kata untuk Ning. Oh aku merasa bersalah, amat sangat, dan tanpa sengaja aku merogoh ponsel dan dilayar hp ku muncul nama Ning, aku begitu tergopoh hingga tak menyadari bahwa aku terperosok dan terbawa arus air yang menggila. Dalam kegundahan aku berkata “kenapa waktu kita selalu salah?” tak pernah ada penjelasan yang mungkin tersampaikan. Ning aku mencintaimu…tiba-tiba semuanya gelap.

***

Kaget dan sedih menangis bahkan meraung hanya itu yang bisa aku perbuat mendengar hal yang mengerikan terjadi pada mas Daeng. Secepat itu kau meninggalkan aku mas, bahkan aku pun belum sempat kau perkenalkan dengan mbak NIng. Atau bahkan kau belum sempat melihat anakmu lahir. Kau kejam mas, kau tega, menelantarkan aku, namun aku tahu apa yang harus kuperbuat untukmu …aku mencintaimu mas,,,amat sangat.

***

Aku seperti orang gila yang tak punya arah tujuan hidup lagi, seakan separuh hidupku terbawa dengan hembusan nafas terakhir mas Daeng dalam pelukku. Dia memandangku dengan senyum untuk terakhir kalinya. Hatiku sakit tak kuat rasanya merasakan dan membayangkan hidup tanpa orang yang kucintai. Dengan berat dan tegar aku ikhlas melepas kepergiannya, kupertegas senyumku dan kukatakan betapa aku mencitainya, dan meminta maaf karena selama ini tak bisa memahaminya. Aku lupa untuk mengatakan bahwa aku hamil, sebuah kesalahan terbesarku. Andai di saat ia tersenyum terakhir tadi aku mengatakannya mungkin sekarang mas Daeng bahagia. Maafkan aku mas.

***

Di sinilah sekarang aku ada, di Baltimurung tempat semua kenangan yang mas Daeng torehkan. Aku tahu bahwa mbak Ning pasti akan kesini dengan menemui kupu-kupu yang merupakan jelmaan mas Daeng menurutku dan mbak Ning mungkin. Sungguh gila tapi aku percaya. Aku akan mengatakannya.

***

Dua bulan berlalu kemantian mas Daeng, sekarang aku di Baltimurung tempat favorit suamiku. Sekarang aku tengah berbicara dengan seorang wanita. Aku bingung dengan semua penjelasan wanita cantik dihadapanku ini. Ia yang sedari tadi menjadi penerjemahku dengan kupu-kupu tiba-tiba mengatakan bahwa ia tengah mengandung anak mas Daeng. Kuperhatikan lagi, ternyata benar ia tengah mengandung, dan katanya sudah lima bulan, padahal usia kandunganku baru tiga bulan. Aku tidak bisa terima ini, ini hal yang paling mustahil. Tapi aku melihat kejujuran di matanya. Kini aku baru tahu bahwa sebab keanehan mas ternyata adalah semua ini. Jadi ia sering terlihat bahagia karena ini. Oh tuhan betapa tidak bergunanya aku menjadi seorang istri.

“mbak Ning, jangan pernah salah paham kepada mas Daeng, dia laki-laki yang baik, dia sangat mencintai mbak sampai akhir hayatnya, terkadang saya juga iri, namun saya tidak pernah mengharap apa pun mbak, saya hanya tidak tahu kenapa saya juga teramat mencintainya”

Aku hanya tertegun mendengar semua omongannya. Awalnya aku marah serasa ingin mencekik bahkan membunuh wanita di depanku yang merupakan selingkuhan mas Daeng atau istri kedua atau apalah. Namun, melihatnya yang begitu memahami mas Daeng aku merasa malu dan terpukul. Akhirnya aku hanya bisa menangis dalam diam tak pernah menyangka mas Daeng mengkhianatiku namun mencintaiku.  Wanita yang lebih muda dari ku ini tiba-tiba mendekat dan memelukku. Ia juga menangis sama sepertiku, aku tahu ia juga tidak salah mencintai mas Daeng, karena mas Daeng memang lelaki yang menarik. Namun, yang tak habis kupikir kenapa wanita ini lebih memahami mas Daeng daripada aku. Akhirnya aku luruh dalam peluknya.

“mbak, maafkan aku mencintai mas Daeng, namun izinkanlah aku mengabdi dan menyayangi mbak Ning layaknya kakakku, aku ingin mbak bisa menerima kehadiranku, dan anak-anak mas Daeng tetap rukun dalam persaudaraan” ujarnya dengan isak tangis pula.

Mendengar itu aku semakin malu, kenapa wanita ini begitu mengerti setiap keinginan mas Daeng, mungkin jika ia ada di sini ia akan memeluk kami berdua. Perlahan aku menurunkan egoku dan sedikit demi sedikit mulai dapat mencerna logika. Aku memeluk ia balik setelah beberapa saat. Ia terlihat kaget, namun pada akhirnya ia semakin kencang menangis. Aku tersenyum penuh kerelaan. Perlahan kuangkat wajahnya perlahan dan kuperhatikan dengan seksama. Aku terkejut.

“astaga, kamu gadis itu, gadis dalam doaku setelah menolongku”.

“tolong apa? Doa apa?” ujarnya masih bingung.

Ning semakin tersenyum lebar dan menyeka air mata gadi itu. “kenapa waktu kita selalu salah? Ternyata Tuhan menyiapkan semuanya dengan begitu indah”.

Cerpen

Untuk memenuhi tugas mata kuliah

Apresiasi Prosa Fiksi

yang dibina oleh Bapak Wahyudi Siswanto

Oleh :

Rhesi Elmia Ningsih

100211400466

Offering A

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS SASTRA

JURUSAN SASTRA INDONESIA

Jum’at, 22 September 2011

4 comments

  1. Azam Muhammad Victory · · Reply

    Ditunggu cerpen yang lain . . .

    1. haha…pasti deh…itu saja ada yang belum selesai…:)

  2. ceritanya bagus. mampu mengaduk-aduk emosi pembaca.

    1. oh really? hehe thanks…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: